JAKARTA– Disabilitas tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Selain disabilitas fisik yang paling terlihat, ada pula disabilitas mental dan disabilitas intelektual yang memiliki dampak signifikan terhadap cara seseorang berpikir, merasakan, dan berinteraksi.
Pakar kesehatan dan pendidikan menekankan pentingnya pemahaman yang tepat terhadap kedua jenis disabilitas ini, karena seringkali disalahartikan atau tidak dikenali secara jelas.
Berbeda dengan disabilitas fisik, tanda-tanda disabilitas mental maupun intelektual tidak selalu tampak secara visual, namun memengaruhi kualitas hidup sehari-hari.
Disabilitas intelektual adalah kondisi yang ditandai keterbatasan kemampuan intelektual dan adaptif. Kondisi ini memengaruhi cara seseorang belajar, memahami informasi, serta menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Penyandang disabilitas intelektual umumnya memiliki tingkat IQ di bawah rata-rata dan menghadapi kesulitan dalam komunikasi, interaksi sosial, serta penyesuaian diri.
Beberapa contoh kondisi ini antara lain Down Syndrome dan keterlambatan tumbuh kembang.
Menurut American Psychological Association (APA), disabilitas intelektual dikategorikan berdasarkan skor IQ: - Ringan (Debil): IQ 55–70 - Sedang (Imbesil): IQ 40–55 - Berat: IQ 25–40 - Sangat Berat: IQ di bawah 25
Penyandang disabilitas intelektual memerlukan waktu lebih lama untuk belajar serta lingkungan yang tenang dan bebas tekanan agar dapat lebih fokus.
Dalam berinteraksi, penggunaan bahasa sederhana dan instruksi yang jelas sangat dianjurkan untuk mendukung proses adaptasi mereka.
Sementara itu, disabilitas mental berbeda dari disabilitas intelektual. Kondisi ini berkaitan dengan gangguan kesehatan mental yang memengaruhi emosi, pikiran, atau perilaku seseorang, seperti depresi berat, skizofrenia, dan gangguan bipolar.
Meskipun tidak selalu tampak secara fisik, disabilitas mental dapat membatasi kemampuan seseorang untuk menjalani aktivitas sehari-hari dan bersosialisasi.
Ahli pendidikan dan kesehatan menekankan bahwa pemahaman serta dukungan sosial yang tepat sangat penting agar penyandang disabilitas mental maupun intelektual dapat berkembang optimal.
Hal ini mencakup perlakuan yang sabar, lingkungan yang suportif, serta akses pendidikan dan terapi yang sesuai.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan stigma terhadap penyandang disabilitas mental dan intelektual dapat berkurang, serta mereka mendapatkan hak dan kesempatan yang setara untuk berkembang.*