Kabar baik kedua, menurut SBY, adalah munculnya sinyal positif menuju berakhirnya perang Rusia-Ukraina.
Ia menyoroti rencana pertemuan damai yang dimediasi Amerika Serikat dan dijadwalkan berlangsung di Uni Emirat Arab pada 23–24 Januari 2026.
Ketiga, SBY menilai potensi perang tarif global mereda.
Ancaman kenaikan tarif oleh Amerika Serikat terhadap negara-negara Eropa yang sebelumnya berpotensi memicu instabilitas ekonomi dunia kini ditarik kembali.
Keempat, pembentukan Board of Peace atau Dewan Perdamaian juga disebut SBY sebagai perkembangan yang patut dicermati.
Dewan ini diinisiasi Presiden AS Donald Trump sebagai salah satu mekanisme diplomasi perdamaian global, termasuk untuk isu Palestina.
Meski demikian, SBY mengaku belum ingin berkomentar lebih jauh dan menilai langkah Indonesia bergabung dalam forum tersebut telah melalui pertimbangan matang oleh Presiden Prabowo Subianto.
Kabar baik kelima adalah kehadiran langsung Presiden Prabowo Subianto di WEF 2026.
Menurut SBY, partisipasi Indonesia dalam forum global tersebut sejalan dengan tradisi politik luar negeri bebas aktif yang telah dijalankan sejak era Presiden Soekarno.
"Ini saat yang kritis. Kehadiran presiden kita menunjukkan bahwa Indonesia ikut terlibat mencari solusi bagi persoalan dunia," kata SBY.
SBY berharap komitmen dan dialog yang muncul di WEF 2026 tidak berhenti sebagai wacana, melainkan diwujudkan dalam langkah nyata yang dapat menjaga stabilitas global.*