Prajurit tersebut, Praka Rico Pramudia (31), dilaporkan meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami luka parah akibat serangan di wilayah Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan. Insiden itu terjadi saat ia menjalankan misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa.
"Bangsa Indonesia menghadapi kehilangan atas gugurnya prajurit TNI yang tengah menjalankan misi perdamaian di Lebanon," kata Dave Laksono, Sabtu (25/4/2026).
Dave menyebut, gugurnya prajurit TNI kembali menjadi pengingat bahwa tugas menjaga perdamaian dunia memiliki risiko tinggi. Menurutnya, Indonesia tetap memiliki komitmen kuat dalam menjalankan misi internasional, namun keselamatan personel harus menjadi prioritas utama.
Ia juga mendorong pemerintah, Kementerian Pertahanan, dan TNI untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan pasukan di daerah misi, termasuk penguatan dukungan logistik dan koordinasi dengan PBB.
"Di tengah eskalasi konflik yang semakin kompleks, keselamatan prajurit tetap menjadi prioritas utama," ujarnya.
Selain itu, Komisi I DPR juga menyoroti pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap kebijakan pengerahan pasukan perdamaian agar tetap sejalan dengan perlindungan personel di lapangan.
Sementara itu, UNIFIL sebelumnya mengonfirmasi bahwa Praka Rico sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit di Beirut sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia akibat luka-luka serius.
UNIFIL turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta pemerintah Indonesia atas insiden tersebut.
Hingga kini, pemerintah Indonesia belum mengumumkan langkah lanjutan terkait kemungkinan peninjauan kembali penempatan pasukan di wilayah konflik Lebanon.*
(d/dh)
Editor
: Dharma
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Minta Pemerintah Prioritaskan Keselamatan Pasukan UNIFIL