BREAKING NEWS
Minggu, 16 Agustus 2026

Tsunami Capai 1,61 Meter di Reo, BMKG Ungkap Gempa M7,7 NTT Lebih Dangkal dan Merusak dari 1992

Dharma - Sabtu, 15 Agustus 2026 21:18 WIB
Tsunami Capai 1,61 Meter di Reo, BMKG Ungkap Gempa M7,7 NTT Lebih Dangkal dan Merusak dari 1992
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. (Foto: Dok. BMKG)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeberkan perkembangan terbaru terkait gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa yang semula tercatat bermagnitudo (M) 7 tersebut dimutakhirkan menjadi M 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan aktivitas kegempaan di wilayah NTT masih terus dipantau secara real time. Hingga pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 235 gempa bumi susulan atau aftershocks setelah gempa utama.

Faisal mengatakan proses stabilisasi sesar membutuhkan waktu tertentu sebelum aktivitas seismik kembali normal. Berdasarkan histori dan karakteristik wilayah tersebut, BMKG memperkirakan proses peluruhan alami aktivitas gempa dapat berlangsung selama 2-3 minggu.

Baca Juga:

"BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya," kata Faisal dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).

Gempa tersebut merupakan gempa tektonik dangkal dengan kedalaman 15 kilometer. BMKG mengidentifikasi sumber gempa berasal dari aktivitas sesar naik Busur Belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust.

Sistem pemantauan gempa BMKG merespons kejadian tersebut dengan cepat. Peringatan dini tsunami dikeluarkan hanya dalam waktu 2 menit 16 detik setelah gempa utama terjadi.

Setelah parameter gempa dinilai lebih stabil dan presisi, BMKG melakukan pemutakhiran peringatan dini tsunami sekitar 10 menit kemudian.

Guncangan gempa tersebut kemudian memicu gelombang tsunami yang terobservasi di sejumlah wilayah pesisir. BMKG menggunakan model multi-skenario untuk memperkirakan potensi ancaman dan membaginya ke dalam status Siaga dan Waspada.

Status Siaga menunjukkan potensi ketinggian tsunami antara 0,5 meter hingga 3 meter. Sementara status Waspada menunjukkan potensi ketinggian gelombang di bawah 0,5 meter.

Berdasarkan jaringan observasi muka air laut, tsunami tercatat tiba di Reo, Manggarai dan Manggarai Timur dengan ketinggian puncak mencapai 1,61 meter. Gelombang setinggi 0,94 meter juga tercatat di Maurole, Ende.

Sementara itu, gelombang tsunami dengan ketinggian lebih dari 0,5 meter tercatat di Bulukumba dan Sape, Bima. BMKG kemudian mengakhiri seluruh peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi muka air laut telah kembali aman.

Faisal menjelaskan gempa tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan sejumlah gempa yang pernah terjadi di wilayah Flores. Secara historis, Flores Back Arc Thrust memiliki rekam jejak gempa merusak, termasuk gempa M 7,8 pada kedalaman 28 kilometer pada 1992.

"Bedanya, gempa kali ini berpusat pada kedalaman yang jauh lebih dangkal, sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat serta memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara," jelasnya.

Berdasarkan peta intensitas guncangan, BMKG mencatat guncangan terkuat mencapai skala VII Modified Mercalli Intensity (MMI) di Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Riung, Kabupaten Ngada, serta Kota Ambai. Hasil observasi mikro juga mencatat guncangan kuat di kawasan Manggarai dan Ruteng.

Sementara itu, skala VI MMI tercatat di Wolowae, Nagekeo dan Kota Bajawa. Guncangan skala V MMI dirasakan di sejumlah wilayah lainnya di sekitar pusat gempa.

Untuk mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, BMKG menerjunkan tim ahli untuk melakukan survei mikrozonasi dan makroanalisis.

Tim BMKG Pusat bersama 14 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG se-NTT melakukan pemetaan di wilayah Ngada, Nagekeo, serta sejumlah titik rawan lainnya di Pulau Flores.

Survei tersebut dilakukan untuk mengetahui karakteristik tanah serta respons wilayah terhadap guncangan gempa. Hasil analisis lapangan nantinya akan diserahkan kepada para pemangku kepentingan sebagai rujukan teknis dalam proses rekonstruksi dan penguatan struktur bangunan tahan gempa.

BMKG juga mengimbau masyarakat menggunakan informasi yang bersumber dari kanal resmi sebagai rujukan. Jaringan nasional BMKG saat ini didukung lebih dari 2.000 sensor kegempaan, termasuk 553 sensor seismograf yang tersebar di seluruh Indonesia.

BMKG terus berkoordinasi dalam penanganan bencana bersama BNPB, Basarnas, TNI-Polri, dan pemerintah daerah. Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, warga diminta menjauhi bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat gempa serta terus mengikuti pemutakhiran informasi kebencanaan melalui kanal resmi BMKG.* (d/dh)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Manggarai Terparah, Korban Gempa NTT Bertambah Jadi 43 Orang, 5 Bandara dan RS Ikut Rusak
Kirim 7 Pejabat Pusat ke Labuan Bajo dan Maumere, Prabowo Percepat Penanganan Gempa NTT
Gempa M6,4 Guncang Simalungun Sore Ini, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
5 Bandara dan 2 Pelabuhan Rusak, Pemerintah Kerahkan SAR hingga TNI-Polri Tangani Gempa NTT
Dari Ruteng hingga Maumere, 8 Ruas Jalan Nasional NTT Tertutup Longsor, Kementerian PU Kebut Pembersihan
Kampung Halaman Diguncang Gempa M7,7, Gibran Kuatkan Semangat Paskibraka Asal NTT Jelang Bertugas
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru