BREAKING NEWS
Sabtu, 29 Agustus 2026

PWI dan GAPKI Bahas Masa Depan Sawit Indonesia, Pers Diminta Tetap Kritis

gusWedha - Sabtu, 29 Agustus 2026 08:49 WIB
PWI dan GAPKI Bahas Masa Depan Sawit Indonesia, Pers Diminta Tetap Kritis
Workshop Jurnalistik GAPKI dan PWI di Yogyakarta, Jumat, 28 Agustus 2026. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Terlebih, industri tersebut menghadapi berbagai tudingan dan kampanye negatif di tingkat global.

Menurut Akhmad, persaingan bisnis internasional dapat membuat isu lingkungan dan tenaga kerja digunakan untuk membangun citra negatif terhadap industri sawit Indonesia.

"Tantangan utama industri sawit adalah membuktikan tata kelola yang bermanfaat bagi masyarakat. Dunia sangat membutuhkan kelapa sawit karena ini adalah minyak nabati paling produktif," ujar Akhmad Munir.

Ia menekankan pentingnya jurnalisme berbasis data dan fakta empiris.

Menurut dia, wartawan perlu menyampaikan perkembangan industri secara kritis, termasuk ketika menemukan persoalan dalam tata kelola perusahaan.

"Pers harus mengedepankan kepentingan nasional dengan mendukung industri kelapa sawit yang ramah lingkungan, sehat bagi tenaga kerja, dan berkelanjutan. Inilah tugas mulia yang perlu kita kerjakan bersama," tegasnya.

Guru Besar Universitas Jember Prof. Dr. Ermanto Fahamsyah mengatakan kelapa sawit memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia.

Menurut dia, sawit memberikan manfaat dalam bentuk devisa, lapangan pekerjaan, serta mendukung ketahanan pangan dan energi.

"Sawit adalah anugerah. Kita harus bersyukur karena komoditas ini memberi kontribusi besar bagi devisa, lapangan kerja, dan ketahanan pangan serta energi nasional. Tugas kita bersama adalah mengelola anugerah ini dengan tata kelola yang baik agar manfaatnya dirasakan seluruh rakyat," ujarnya.

Ekonom Senior INDEF sekaligus President of ASAE, Prof. Dr. Bustanul Arifin, menyoroti pentingnya pembenahan perkebunan rakyat.

Ia juga mendorong penguatan diplomasi internasional untuk menghadapi meningkatnya kebutuhan energi dalam negeri dan semakin ketatnya aturan perdagangan global.

"Sawit berkelanjutan adalah keniscayaan nasional, bukan sekadar respons atas desakan luar negeri. Kunci daya saing kita ke depan terletak pada peremajaan kebun rakyat untuk memangkas yield gap, percepatan sertifikasi ISPO/RSPO, serta penguatan kemitraan adil antara petani, BUMN, dan swasta," ujar Prof. Bustanul Arifin yang juga merupakan pakar ekonomi pertanian ini.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Prabowo Bakal Bertemu Putin, Jadi Tamu Utama EEF ke-11 di Rusia
Jangan Asal Kambing Hitamkan Peladang Panglima Jilah Pas Badan di Istana Bela Tradisi Adat Kalbar
Praperadilan Kandas Dua Kali! Kubu Febrie Adriansyah Bongkar 'Paradoks Prosedural' hingga Sentil Isu Kriminalisasi
"Kayak Upin-Ipin", Menhut Puji Kekompakan Kapolda-Pangdam Riau Berantas Karhutla
2,4 Juta Lapangan Kerja Dijanjikan Tercipta, Purbaya Akui Belum Cukup Atasi 7,2 Juta Pengangguran
Ekonomi Tumbuh 5,29% tapi Rakyat Masih Mengeluh, Menkeu Purbaya Beberkan Syarat Mutlak Agar Bisa Merata
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru