BREAKING NEWS
Minggu, 30 Agustus 2026

"Jabatan Itu Cuma Sampingan", Jokowi Bagikan 3 Petuah Jawa soal Kuasa, Pintar, dan Kecepatan

Adelia Syafitri - Minggu, 30 Agustus 2026 09:39 WIB
"Jabatan Itu Cuma Sampingan", Jokowi Bagikan 3 Petuah Jawa soal Kuasa, Pintar, dan Kecepatan
Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menyapa dan bertemu warga saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al-Falah, Desa Sumberadi, Kebumen, Sabtu (29/8/2026). (Foto: diswayjateng/Muharom Adi Yuliarta)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

KEBUMEN - Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan tiga petuah Jawa yang disebutnya masih relevan dalam kehidupan saat ini. Pesan tersebut mengingatkan agar seseorang tidak menyalahgunakan kekuasaan, kepandaian, maupun kemampuan untuk merugikan atau merendahkan orang lain.

Tiga petuah itu disampaikan Jokowi saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).

Petuah pertama yang disampaikan Jokowi yakni "Lamun siro sekti, ojo mateni". Menurutnya, ungkapan tersebut mengandung pesan agar seseorang yang memiliki kekuatan atau kekuasaan tidak menggunakannya untuk menjatuhkan orang lain.

Baca Juga:

"Meskipun kamu sakti, jangan suka menjatuhkan atau membunuh. Jangan kita punya kekuasaan yang besar, kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang. Itu hal yang tidak baik," kata Jokowi.

Jokowi mengingatkan kekuasaan dan jabatan bukan sesuatu yang bersifat permanen. Menurutnya, siapa pun yang sedang berada dalam posisi berkuasa harus menyadari bahwa jabatan hanya berlangsung sementara.

"Karena kekuasaan itu hanya sementara. Jabatan itu hanya sampingan. Itu yang harus diingat waktu kita memiliki kekuasaan," ujarnya.

Petuah kedua adalah "Lamun siro pinter, ojo minteri". Pesan tersebut ditujukan kepada orang yang memiliki pengetahuan atau kepandaian agar tidak merasa paling unggul dibandingkan orang lain.

"Sehingga kalau kita pintar, jangan merasa paling pintar," kata Jokowi.

Ia menyinggung fenomena ketika seseorang merasa sudah mengetahui banyak hal meski belum tentu memiliki pengetahuan yang cukup. Jokowi juga menilai kepandaian perlu diiringi adab, sopan santun dan tata krama.

"Adab ketimuran, sopan santun, tata krama. Mestinya kalau kita dihadiri orang banyak itu menyampaikan hal yang baik supaya orang mengikuti kita menjadi baik," ujarnya.

Menurut Jokowi, kemampuan berbicara di hadapan publik seharusnya digunakan untuk menyampaikan hal-hal yang memberikan manfaat. Ia mengingatkan agar kepandaian tidak digunakan untuk merendahkan atau menyerang pihak lain.

Petuah ketiga yang disampaikan Jokowi adalah "Lamun siro banter, ojo disiki". Ungkapan itu mengingatkan orang yang memiliki kemampuan atau kecepatan agar tidak selalu berusaha mendahului orang lain.

"Nek kowe iso cepet, ojo suka mendahului. Kadang-kadang seperti itu menyakitkan yang didahului. Sing di disiki iku yo ora seneng," kata Jokowi.

Menurutnya, seseorang tidak perlu selalu menunjukkan keunggulannya hanya untuk terlihat berada di posisi paling depan. Sikap menahan diri dan memberi ruang kepada orang lain juga merupakan bentuk kebijaksanaan.

"Kalau kita banter tapi kelihatan pelan ya tidak apa-apa," ujarnya.

Jokowi kemudian mengaitkan ketiga petuah tersebut dengan kondisi kehidupan masyarakat saat ini. Menurutnya, banyak tantangan yang sudah dihadapi masyarakat sehingga tidak perlu ditambah dengan persoalan akibat persaingan yang tidak sehat.

"Kita hidup dalam dunia sekarang ini yang serba sulit. Banyak tantangan. Kalau kita menambahi urusan dengan hal-hal yang tidak perlu, rugi semua kita," kata Jokowi.

Ia mengajak masyarakat menggunakan kelebihan yang dimiliki secara bijak. Kekuasaan, kepandaian dan kemampuan, menurut Jokowi, semestinya digunakan untuk memberikan manfaat dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

Tiga petuah Jawa tersebut juga menekankan pentingnya kerendahan hati. Seseorang yang memiliki posisi, pengetahuan atau kemampuan lebih tidak seharusnya menjadikan kelebihan tersebut sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Jokowi menilai nilai-nilai tersebut tetap penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika seseorang berada di ruang publik maupun memiliki jabatan tertentu.

Melalui pesan tersebut, Jokowi mengingatkan masyarakat untuk tidak menjadikan keunggulan sebagai alat untuk memenangkan diri sendiri dengan cara merugikan orang lain.

"Dunia ini sudah menghadapi tantangan besar, mari bijak dalam bertindak," pungkasnya.* (k/dh)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Sentil Tokoh Suka Pamer Pintar, Jokowi: Lamun Siro Pinter, Ojo Minteri!
Setelah Pilpres 2024: Media, Konflik Kekuasaan, dan Kriminalisasi Simbolik
Anti 'One Man Show' Demokrat Sumut Pasang Standar Tinggi: Calon Ketua Wajib Bersih Hukum dan Pandai Merangkul
Alarm Darurat Tata Kelola Keuangan Pengamat Ingatkan Intervensi Kekuasaan Bisa Runtuhkan Independensi Perbankan
Dokter Tifa Ajukan Keberatan Lawan Dakwaan Kasus Ijazah Jokowi
Dari Kursi Terdakwa Jadi Peneliti, Dokter Tifa Ngaku Jadikan Sidang Kasus Ijazah Jokowi sebagai Bahan Riset Akademis
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru