Megawati Bertemu Xanana Gusmão di Dili, Tawarkan Tiga Bidang Kerja Sama Strategis kepada Timor Leste
DILI Presiden ke5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menggelar pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Timor Leste, Kay Ral
NASIONAL
Oleh:Dr. Bukhari, M.H., CM
DI tengah era digital yang penuh emosi meledak-ledak, kita sering melihat orang-orang membalas luka dengan luka, membalas hinaan dengan cacian, bahkan membalas pengkhianatan dengan tindakan yang lebih kejam. Seolah-olah kita merasa lega setelah "membalas". Padahal, kebanyakan dari kita hanya sedang meniru kejahatan yang sama, dan menjelma menjadi sosok yang dulu kita benci.
Padahal, balas dendam terbaik adalah tidak menjadi seperti musuhmu. Sebab pada saat kita menahan diri untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, kita sedang menempatkan diri di sisi yang lebih tinggi secara moral, spiritual, dan sosial. Kita menang bukan karena kita membalas, tapi karena kita tidak ikut jatuh dalam lubang yang sama.
Nilai ini sangat dalam. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan membalas, melainkan kemampuan mengendalikan diri. Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW adalah contoh paling nyata: dihina, dilempari batu, bahkan difitnah tapi beliau membalas semuanya dengan pemaafan dan kasih sayang. Mengapa? Karena beliau tahu, kebaikan tidak boleh dikalahkan oleh kebencian.
Dalam psikologi modern pun, pembalasan tidak pernah membuat kita benar-benar merasa damai. Yang terjadi justru sebaliknya: dendam membuat luka semakin dalam. Tapi ketika kita memilih untuk tidak membalas, kita sedang memutus rantai kebencian. Kita memberi ruang bagi perbaikan dan pertumbuhan, bukan permusuhan yang abadi.
Dan mari kita jujur: dunia ini tidak kekurangan orang yang dendam, tapi sangat kekurangan orang yang mampu memaafkan. Maka, menjadi pribadi yang tidak seperti musuhmu adalah sikap revolusioner. Dalam masyarakat yang gampang marah dan mudah tersulut, menjadi orang yang tenang dan memaafkan adalah bentuk perlawanan paling elegan.
Namun lebih dari itu, kita diajak untuk tidak sekadar memaafkan, tapi juga terus berbuat baik di jalan yang diridhai Allah SWT. Karena kebaikan yang tidak disandarkan pada nilai-nilai ilahi akan mudah goyah oleh pujian atau kekecewaan. Maka ketika kita memilih untuk tidak membalas, hendaknya bukan karena takut, tapi karena sadar bahwa Allah Maha Adil, dan sebaik-baiknya balasan akan datang dari-Nya.
DILI Presiden ke5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menggelar pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Timor Leste, Kay Ral
NASIONAL
JAKARTA Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menyatakan Ahmad Dedi alias Dedi Congor menerima uang sebesar R
HUKUM DAN KRIMINAL
LOMBOK BARAT Presiden Prabowo Subianto meminta seluruh kepala daerah dan aparat keamanan ikut mengawasi pelaksanaan Program Makan Bergiz
NASIONAL
JAKARTA Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) milik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah me
SOSOK
MEDAN Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) mendorong seluruh pengelola media sosial Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untu
PEMERINTAHAN
JAKARTA Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono bersama jajaran Kementerian Koperasi, Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi
EKONOMI
SUKABUMI Ekspedisi Cicatih Elpala memasuki etape ketiga dengan menyusuri aliran Sungai Cicatih di kawasan Leuwi Lalay, Sukabumi, Jawa Ba
NASIONAL
JAKARTA Pengamat kebijakan pertanahan dan reforma agraria, Dr. Budi Suryanto, S.H., M.H., M.Si., menilai pembenahan tata kelola agraria
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Guru Besar Universitas Borobudur, Prof. Dr. Faisal Santiago, SH., MH., menilai ego sektoral di kalangan aparat penegak hukum (APH)
NASIONAL
MEDAN Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Medan mengungkap sebuah rumah kos di Kota Medan, Sumatera Utara, yang diduga dijadikan gudang p
HUKUM DAN KRIMINAL