BREAKING NEWS
Selasa, 28 April 2026

Mengapa Kita Sibuk pada Tumbler Ketika Sumatera Tenggelam?

Adam - Senin, 01 Desember 2025 07:51 WIB
Mengapa Kita Sibuk pada Tumbler Ketika Sumatera Tenggelam?
Wilayah yang terdampak banjir di wilayah Tapanuli. (foto: Bobby Nasution/fb)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Video-video yang menunjukkan sesaknya rangkaian KRL pada jalur Jakarta Kota-Bogor, Bekasi-Kampung Bandan, hingga Tanah Abang-Rangkasbitung memperlihatkan betapa melelahkannya rutinitas sehari-hari.

Dalam kondisi demikian, publik cenderung mencari pelarian pada isu yang lebih ringan dan mudah dicerna seperti drama tumbler. Jadi, masalahnya bukan ketiadaan empati, melainkan keterbatasan energi emosional kolektif.

Masyarakat sebagai kelompok memiliki kapasitas terbatas untuk merespons peristiwa berat yang berulang, seperti bencana alam, konflik, atau krisis ekonomi. Kita membutuhkan energi emosional yang besar menghadapi berita banjir besar, sementara drama tumbler menyediakan "hiburan konflik" yang sederhana.

Selain kelelahan, terdapat faktor lain yang membuat isu trivial lebih menarik perhatian. Pertama, algoritma media sosial mendorong konten yang sarat emosi tetapi sederhana untuk dipahami.

Kasus tumbler jauh lebih sesuai dengan logika algoritma dibanding berita kerusakan infrastruktur atau kebutuhan pengungsi.

Kedua, kelelahan bencana (disaster fatigue). Bencana hidrometeorologi terjadi hampir setiap tahun. Ketika bencana menjadi "normal", perhatian publik bergeser ke isu yang tampak baru dan dramatis meski tidak lebih penting.

Ketiga, komunikasi publik pemerintah yang buruk. Pada hari-hari ketika banjir melanda Sumatera, hampir tidak ada "komando narasi" dari pemerintah yang memimpin percakapan publik.

Dalam beberapa hari pertama, video-video banjir justru lebih banyak beredar dari akun warga, bukan kanal resmi pemerintah. Tidak ada pesan naratif yang menggabungkan data, visual, dan instruksi tindakan.

Tidak ada pernyataan nasional yang menunjukkan skala krisis. Tidak ada juru bicara yang muncul secara reguler dengan pembaruan terbaru. Tidak ada kampanye komunikasi darurat yang mengarahkan empati publik.

Akibatnya, ruang informasi digital dipenuhi isu sampingan. Dalam konteks bencana, kemampuan mengarahkan perhatian publik sama pentingnya dengan kecepatan mengirim bantuan.

Pemerintah harus memahami bahwa publik tidak punya kapasitas emosional untuk memilah isi berita sendiri. Publik membutuhkan informasi yang ringkas, jelas, rutin, dan memandu mereka memahami urgensi bencana.

Di sinilah letak fungsi vital komunikasi pemerintah, yakni menyederhanakan informasi, mengarahkan perhatian, dan memprioritaskan pesan yang benar-benar penting. Ketika fungsi ini tidak dijalankan, publik mengikuti arus algoritma.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Update BNPB: 442 Orang Meninggal, 402 Hilang Akibat Banjir dan Longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Prakiraan Cuaca Aceh Hari Ini, Senin 1 Desember 2025: Mayoritas Wilayah Berpotensi Hujan
Prakiraan Cuaca Sumut Hari Ini, Senin 1 Desember 2025: Mayoritas Wilayah Diguyur Hujan
Starlink Hidupkan Lagi Komunikasi Warga Aceh Setelah Lima Hari Terisolasi
Update Terbaru BNPB: 316 Korban Jiwa Banjir dan Longsor di Sumut, Aceh, dan Sumbar, Pencarian Masih Berlanjut
Ratusan Warga Ramaikan MTQ dan Festival Nasyid di Limau Manis, Doa untuk Banjir Deli Serdang Menggema
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru