Rata-rata lama sekolah penduduk Aceh yang masih berkisar di level SMP memberikan gambaran jujur tentang kualitas modal manusia daerah ini.
Harapan lama sekolah yang lebih tinggi menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki aspirasi pendidikan yang cukup besar. Sayangnya, aspirasi tersebut sering kandas di tengah jalan.
Kesenjangan antara harapan dan kenyataan ini menandakan bahwa pendidikan Aceh belum cukup kuat menopang anak-anaknya hingga tuntas, terutama mereka yang berasal dari keluarga miskin dan wilayah terpencil. Pendidikan belum sepenuhnya menjadi alat mobilitas sosial yang efektif.
Ketimpangan Wilayah: Pendidikan yang Masih Ditentukan oleh Alamat Rumah
Perbedaan kualitas pendidikan antarwilayah di Aceh masih terasa nyata. Anak yang lahir dan tumbuh di pusat kota memiliki peluang belajar yang jauh lebih baik dibandingkan mereka yang tinggal di wilayah pedalaman atau pesisir.
Ketersediaan guru, fasilitas belajar, hingga akses teknologi masih sangat timpang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keadilan pendidikan di Aceh belum sepenuhnya terwujud. Sekolah belum menjadi ruang yang benar-benar setara bagi semua anak Aceh, terlepas dari latar belakang geografis dan sosial mereka.
Berbagai asesmen nasional memperlihatkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi siswa Aceh masih berada pada level dasar. Ini bukan persoalan sederhana.
Selama bertahun-tahun, pembelajaran di kelas masih didominasi oleh hafalan, ceramah satu arah, dan penilaian yang menekankan hasil akhir, bukan proses berpikir.
Di banyak sekolah, kurikulum berubah, tetapi cara mengajar tidak banyak bergerak. Guru bekerja keras dalam keterbatasan, namun sering tanpa dukungan pengembangan profesional yang memadai.