Minta Kader Jadi Jubir Prabowo, Gerindra Sumut: Jangan Biarkan Presiden Sendirian Lawan Penentang
MEDAN Sekretaris DPD Partai Gerindra Sumatera Utara (Sumut) Sugiat Santoso meminta seluruh kader Gerindra yang berada di lembaga eksekutif
POLITIK
Oleh: GusWedha
SETIAP kali pariwisata Bali dibicarakan, satu pertanyaan klise selalu muncul: "Kenapa Bali terlihat sepi?" Pertanyaan ini bukan hanya dangkal, tetapi juga menunjukkan cara berpikir yang keliru dalam membaca industri pariwisata.
Baca Juga:Pariwisata bukan lomba keramaian, dan jalanan padat bukan indikator kesehatan ekonomi.
Membandingkan Bali dengan Yogyakarta semata-mata dari jumlah orang di ruang publik adalah kesalahan logika. Keduanya tidak pernah berada di lintasan yang sama.
Yogyakarta dibangun sebagai destinasi wisata domestik massal yang murah, cepat, dan padat.
Bus-bus pariwisata datang silih berganti, rombongan pelajar memenuhi trotoar, dan kamera media merekam kepadatan sebagai simbol "hidupnya" pariwisata.Namun, apakah ramai selalu berarti berhasil? Tidak selalu.
Bali sejak awal diarahkan menjadi destinasi internasional dengan struktur ekonomi pariwisata bernilai tinggi.
Wisatawan Bali tidak sekadar datang, berfoto, lalu pulang. Mereka tinggal lebih lama, membelanjakan lebih besar, dan menyerap rantai ekonomi yang jauh lebih kompleks.
Transaksi besar terjadi di ruang-ruang yang jarang diliput kamera: vila privat, resor eksklusif, pusat konvensi, restoran fine dining, hingga industri kreatif berbasis pengalaman.Masalahnya, public dan sering kali pembuat opini seperti terjebak pada apa yang terlihat, bukan pada apa yang bekerja.
Jalanan sepi langsung diterjemahkan sebagai krisis, padahal bisa jadi itu adalah konsekuensi dari pergeseran model pariwisata: dari kuantitas ke kualitas. Dari kerumunan ke keberlanjutan.
Banyak yang bergerak cepat, tetapi sedikit yang bertahan lama. Bali dan Yogyakarta seharusnya tidak dipertentangkan, apalagi diperlombakan.
Keduanya menjawab kebutuhan pasar yang berbeda.
Baca Juga:
Yang satu menampilkan denyut ekonomi secara kasat mata, yang lain menyerap nilai secara mendalam. Memaksakan satu indikator untuk dua sistem berbeda hanya akan menghasilkan kesimpulan yang salah.
Sudah saatnya diskursus pariwisata berhenti mengandalkan keramaian sebagai tolok ukur tunggal. Pariwisata adalah ekosistem, bukan panggung.
Ia bekerja dalam statistik lama tinggal, belanja per wisatawan, kualitas tenaga kerja, dan daya dukung lingkungan, bukan sekadar jumlah kepala dalam satu bingkai foto.
Jika kita terus menilai pariwisata dari apa yang terlihat ramai, maka kita sedang menipu diri sendiri. Dan pariwisata, seperti ekonomi pada umumnya, tidak pernah ramah terhadap ilusi.*
*)Penulis adalah Wartawan bitvonline.com
MEDAN Sekretaris DPD Partai Gerindra Sumatera Utara (Sumut) Sugiat Santoso meminta seluruh kader Gerindra yang berada di lembaga eksekutif
POLITIK
MEDAN Wali Kota Medan Rico Waas memastikan dua kepala lingkungan (kepling) yang ditangkap polisi karena diduga terlibat peredaran narkoba
PEMERINTAHAN
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan dana untuk membayar kewajiban utang Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) s
EKONOMI
JAKARTA UndangUndang Nomor 5 Tahun 2026 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (UU Polri) digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK). Guga
NASIONAL
MEDAN Fenomena matahari berwarna merah menghebohkan warga Kota Medan pada Minggu (6/9/2026) sore. Fenomena yang berlangsung hingga matahar
PERISTIWA
MEDAN Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan lereng bukit Paropo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, pada Sabtu (5/9/2026)
PERISTIWA
JAKARTA Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan awal pekan, Senin (7/9/2026). IHSG turun 0,25 atau 16,80 poin
EKONOMI
JAKARTA Empat gunung api di Indonesia dilaporkan mengalami erupsi dalam waktu berdekatan pada Minggu (6/9/2026). Keempatnya yakni Gunung A
NASIONAL
MEDAN Sumatera Utara berpotensi menghadapi sejumlah bencana hidrometeorologi sepanjang September hingga Oktober 2026. Mengantisipasi kondi
PEMERINTAHAN
JAKARTA Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau kini berangsur berges
NASIONAL