Kinerja nyata Dony juga terekam kuat saat bencana melanda Sumatera pada akhir 2025.
Tanpa banyak publikasi retoris, ia mengorkestrasi kekuatan BUMN untuk memulihkan kondisi, berkolaborasi membangun ribuan hunian warga dalam waktu yang sangat singkat.
Dony membuktikan bagaimana seni bekerja menavigasi krisis tanpa perlu banyak bersuara di media.
Karakter kerja fundamentalnya juga tercermin dari kebijakannya yang tegas dalam menata ulang laporan keuangan BUMN.
Jika selama ini ada kecenderungan laporan di-makeup (poles buku) agar terlihat mengesankan secara artifisial, Dony meruntuhkan kultur itu. Ia mewajibkan transparansi absolut.
Prinsipnya sederhana dan berani: jika kinerja dan laporannya buruk, maka BUMN itu wajib bertransformasi. Sebaliknya, jika laporannya baik, itu menjadi standar minimum untuk dipertahankan dan ditingkatkan.
Larangan praktik "poles buku" ini adalah langkah fundamental, karena kejujuran data adalah fondasi utama penciptaan nilai kerja nyata ketimbang hanya bersuara.
Pada akhirnya, ada benang merah yang mengikat gaya kepemimpinan Amran, Listyo, maupun Dony. Mereka membuktikan bahwa kerja keras selalu bersuara lebih nyaring dibandingkan sekadar ucapan manis.
Tanpa perlu over-claim atau pencitraan berlebih, kinerja tersebut tersaji secara konkret dan menjadi jawaban telak bagi masyarakat yang bertanya tentang arah pemerintahan Prabowo.
Tentu, bukan hanya mereka bertiga. Masih banyak deretan pejabat di kabinet ini yang menorehkan prestasi nyata di luar sorotan lampu kamera.
Di sisi lain, kita juga tidak menafikan ada menteri-menteri berkinerja apik yang memang tampil vokal dan berkomunikasi dengan baik di publik, sebut saja Erick Thohir atau Bahlil Lahadalia.
Kolaborasi antara para "pekerja sunyi" dan "komunikator ulung" ini pada akhirnya menjadi perisai terbaik untuk menjawab misinformasi dan propaganda yang sengaja ditebar oleh oknum tertentu untuk mendiskreditkan pemerintah.