Memaknai 81 Tahun Kemerdekaan
Oleh Yakub F. IsmailMENGINJAK usia 81 tahun, Indonesia kini tidak lagi berada pada tahap mempertahankan kemerdekaan, melainkan sedang memas
OPINI
Orientasi seperti ini sejalan dengan semangat nasionalisme ekonomi yang tidak berhenti pada jargon, tetapi tampak dalam keberpihakan terhadap produksi dalam negeri, transfer teknologi, dan pengembangan kapasitas SDM bangsa sendiri.
Jika kerangka pikir ini dipegang bersama oleh seluruh stakeholder, maka Pindad Maung, industri otomotif, dan berbagai kebijakan hilirisasi tidak hanya menjadi proyek lima tahunan, melainkan bagian dari perjalanan panjang Indonesia menuju kedaulatan ekonomi yang berkeadilan bagi generasi yang akan datang.
Kemandirian Bukan Berarti Anti Asing
Kemandirian otomotif tidak boleh disalahartikan sebagai sikap menutup diri. Indonesia tetap membutuhkan investasi asing, transfer teknologi, dan kolaborasi global. Namun posisinya harus naik kelas.
Kerja sama dengan mitra internasional perlu disusun dengan syarat yang jelas dan berdampak pada peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), penguatan pemasok lokal, alih teknologi yang terukur, dan ruang bagi desain nasional.
Pada era global value chain, tujuan Indonesia bukan keluar dari jaringan, melainkan masuk sebagai pemain yang punya suara—bukan sekadar tukang jahit yang mudah diganti.
Dalam kacamata ini, diplomasi industri telah dimulai dari penampilan Pindad Maung di KTT ASEAN hingga ekspor pesawat PTDI yang bukan sekadar seremoni.
Apa yang dibawa pemimpin ke meja perundingan ditentukan oleh apa yang mampu diproduksi di pabrik dalam negeri. Pada akhirnya, Maung yang mengantar Presiden di Cebu seharusnya kita baca sebagai pertanyaan terbuka, bukan jawaban final.
Apakah Indonesia sungguh siap naik kelas dari negara pasar menjadi negara produsen? Sejarah Timor dan ASEMKA mengingatkan bahwa keberanian memulai tanpa keberlanjutan hanya akan berakhir sebagai cerita.
VinFast dari Vietnam memberi sinyal bahwa kompetisi regional tidak akan menunggu Indonesia bersiap. Sementara data kinerja industri menunjukkan bahwa fondasi untuk berlari sebenarnya mulai terbentuk.
Indonesia terlalu besar untuk sekadar menjadi pasar, terlalu kaya sumber daya untuk hanya menjadi pemasok bahan baku, dan terlalu berpengalaman dalam manufaktur untuk berhenti pada perakitan.
Jika Pindad, pemerintah, industri swasta, perguruan tinggi, UMKM, dan masyarakat bisa bergerak dalam satu arah, mimpi tentang otomotif nasional yang kuat tidak perlu lagi diucapkan dengan kata "andai".
Oleh Yakub F. IsmailMENGINJAK usia 81 tahun, Indonesia kini tidak lagi berada pada tahap mempertahankan kemerdekaan, melainkan sedang memas
OPINI
JAKARTA Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, perempuan dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan untuk mendapatkan ruang yang s
NASIONAL
KUTAI KARTANEGARA PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menggelar pemeriksaan kesehatan mata bagi pelajar sekolah dasar di wilayah Delta Mahak
KESEHATAN
NAGEKEO Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa magnitudo (M) 7,7 yang menggunc
PERISTIWA
JAKARTA Sebanyak 76 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional resmi dikukuhkan WakilWakil Presiden Gibran Ra
NASIONAL
JAKARTA Partai Gerindra menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah mencatat sejumlah capaian positif selama 21 bulan terakhir.
POLITIK
JAKARTA Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan wacana pemberian kewarganegaraan ganda bagi talenta tertentu yang
NASIONAL
JAKARTA Presiden ke5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dipastikan tidak menghadiri upacara HUT ke81
NASIONAL
NUSANTARA Istana Wakil Presiden (Wapres) di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, telah rampung dibangun dan ditargetkan mulai dig
NASIONAL
JAKARTA Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengukuhkan 76 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat pusat 2026 di
NASIONAL