Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Multatuli melalui novel Max Havelaar (1860) menggambarkan ironi tersebut dengan sangat tajam: rakyat pribumi bekerja keras untuk memperkaya negeri yang bukan miliknya.
Kolonialisme yang Tanpa Sengaja Melahirkan Kaum Nasionalis
Ironisnya lagi, kolonialisme tidak hanya menciptakan kemiskinan. Ia juga melahirkan kelompok sosial baru: kaum pribumi terdidik yang mulai memahami bagaimana sistem ekonomi dunia bekerja.
Awal abad ke-20, Belanda mulai menerapkan Politik Etis (Ethische Politiek) setelah kritik keras terhadap eksploitasi kolonial muncul di Eropa.
Politik Etis membawa slogan "irigasi, edukasi, dan emigrasi". Sekolah-sekolah modern mulai dibuka, termasuk STOVIA di Batavia. (Sinaga et al., 2024)
Namun pendidikan itu sejatinya bukan murni demi kemanusiaan. Pemerintah kolonial membutuhkan tenaga administrasi murah untuk mendukung birokrasi dan perusahaan-perusahaan Eropa yang berkembang pesat di Hindia Belanda.
Tetapi dari sekolah-sekolah inilah lahir generasi baru yang mulai membaca ketidakadilan secara sistematis (Fauziah et al., 2024).
Tokoh-tokoh seperti dr. Soetomo, Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, hingga Tjipto Mangoenkoesoemo melihat satu paradoks besar: negeri yang begitu kaya justru dihuni rakyat yang miskin dan terbelakang.
Infrastruktur Kolonial: Dibangun untuk Menguras, Bukan Menyejahterakan
Kaum terdidik pribumi mulai menyadari bahwa pembangunan kolonial sesungguhnya dirancang bukan untuk kesejahteraan rakyat.
Rel kereta api yang mulai dibangun sejak 1867 di Jawa lebih banyak digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan ke pelabuhan ekspor daripada melayani mobilitas rakyat (Dick et al., 2002).
Pelabuhan modern, jalan raya, dan perkebunan besar berkembang pesat, tetapi keuntungan ekonominya mengalir ke perusahaan-perusahaan Eropa.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.