BREAKING NEWS
Jumat, 19 Juni 2026

Polemik MBG: Jebakan Laboratorium Kemiskinan, Membangun Fondasi Kebahagiaan

BITV Admin - Jumat, 19 Juni 2026 10:18 WIB
Polemik MBG: Jebakan Laboratorium Kemiskinan, Membangun Fondasi Kebahagiaan
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri di Palmerah, Jakarta, pada Jumat, 13 Februari 2026. (foto: Setpres/yt)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Beyond GDP

Universitas-universitas terkemuka di Eropa, Amerika Utara, dan negara Nordik semakin banyak mengalokasikan sumber daya akademiknya untuk mengkaji berbagai hal statistik beyond GDP, seperti subjective wellbeing, life satisfaction, kesehatan mental, kesepian sosial, work-life balance, hingga makna hidup.

Pertanyaan yang mereka ajukan bukan lagi "bagaimana mengurangi kelaparan", tetapi "bagaimana meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi."

Ironinya, ketika negara-negara maju telah bergerak dari ekonomi pertumbuhan menuju ekonomi kesejahteraan (wellbeing economy), Indonesia masih menjadi laboratorium global bagi penelitian tentang kemiskinan, bantuan sosial, pendidikan dasar, dan stunting.

Bukan tentang kebahagiaan. Padahal, menurut klasifikasi Bank Dunia, Indonesia berhasil naik kelas dan masuk dalam klasifikasi Upper Middle-Income Country (Negara Berpendapatan Menengah ke Atas). Sehingga, sudah saatnya Indonesia juga memiliki target pembangunan "beyond GDP".

Pada laporan World Happiness Report menunjukkan bahwa faktor yang paling menentukan kesejahteraan bukan lagi sekadar pendapatan, melainkan kualitas hubungan sosial, kepercayaan kepada institusi, kesehatan, rasa aman, dan kesempatan menjalani kehidupan yang bermakna.

Negara-negara Nordik berada di posisi atas bukan karena warganya paling kaya, melainkan karena jumlah warga yang hidup dalam kondisi sangat tidak bahagia sangat kecil.

Fenomena tersebut sejalan dengan Easterlin Paradox yang menunjukkan bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi, peningkatan pendapatan tidak selalu menghasilkan peningkatan kebahagiaan yang setara.

Pada tahap tertentu, masyarakat mulai mengejar kualitas hidup, bukan sekadar pendapatan.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara negara maju dan Indonesia. Mereka dapat fokus pada wellbeing karena sebagian besar persoalan dasar telah relatif selesai.

Sebaliknya, Indonesia masih harus memastikan bahwa seluruh warga memperoleh akses terhadap pangan bergizi, pendidikan berkualitas, dan kesempatan ekonomi yang layak.

Karena itu, muncul pertanyaan yang cukup provokatif: Setelah Indonesia masuk ke dalam Upper Middle-Income Country, apakah kita ingin segera memasuki era wellbeing, atau tetap berkutat tanpa akhir dalam diskursus kebijakan pengentasan kemiskinan dan stunting?

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kuliah Tinggi Tapi Sulit Kerja? Ini Penyebab Banyak Lulusan Jadi Pengangguran Terdidik
Mentan Amran Usulkan Menu MBG Sajikan Telur dan Ayam Tiga Kali Seminggu
Kejagung Jerat Tersangka Keenam Kasus Korupsi MBG, Fakta Baru Terungkap!
Punya Usaha dan Butuh Modal? Cek KUR BNI 2026 Pinjaman Rp100 Juta, Cicilan Terendah Mulai Rp1,9 Juta
Rico Waas Ajak Pemuda dan Mahasiswa Jadi Agen Perubahan untuk Kemajuan Kota Medan
Pemko Medan Optimistis Jadi Pusat MICE Nasional, Andalkan Perdagangan dan Keberagaman Budaya
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru