Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Beyond GDP
Universitas-universitas terkemuka di Eropa, Amerika Utara, dan negara Nordik semakin banyak mengalokasikan sumber daya akademiknya untuk mengkaji berbagai hal statistik beyond GDP, seperti subjective wellbeing, life satisfaction, kesehatan mental, kesepian sosial, work-life balance, hingga makna hidup.
Pertanyaan yang mereka ajukan bukan lagi "bagaimana mengurangi kelaparan", tetapi "bagaimana meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi."
Ironinya, ketika negara-negara maju telah bergerak dari ekonomi pertumbuhan menuju ekonomi kesejahteraan (wellbeing economy), Indonesia masih menjadi laboratorium global bagi penelitian tentang kemiskinan, bantuan sosial, pendidikan dasar, dan stunting.
Bukan tentang kebahagiaan. Padahal, menurut klasifikasi Bank Dunia, Indonesia berhasil naik kelas dan masuk dalam klasifikasi Upper Middle-Income Country (Negara Berpendapatan Menengah ke Atas). Sehingga, sudah saatnya Indonesia juga memiliki target pembangunan "beyond GDP".
Pada laporan World Happiness Report menunjukkan bahwa faktor yang paling menentukan kesejahteraan bukan lagi sekadar pendapatan, melainkan kualitas hubungan sosial, kepercayaan kepada institusi, kesehatan, rasa aman, dan kesempatan menjalani kehidupan yang bermakna.
Negara-negara Nordik berada di posisi atas bukan karena warganya paling kaya, melainkan karena jumlah warga yang hidup dalam kondisi sangat tidak bahagia sangat kecil.
Fenomena tersebut sejalan dengan Easterlin Paradox yang menunjukkan bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi, peningkatan pendapatan tidak selalu menghasilkan peningkatan kebahagiaan yang setara.
Pada tahap tertentu, masyarakat mulai mengejar kualitas hidup, bukan sekadar pendapatan.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara negara maju dan Indonesia. Mereka dapat fokus pada wellbeing karena sebagian besar persoalan dasar telah relatif selesai.
Sebaliknya, Indonesia masih harus memastikan bahwa seluruh warga memperoleh akses terhadap pangan bergizi, pendidikan berkualitas, dan kesempatan ekonomi yang layak.
Karena itu, muncul pertanyaan yang cukup provokatif: Setelah Indonesia masuk ke dalam Upper Middle-Income Country, apakah kita ingin segera memasuki era wellbeing, atau tetap berkutat tanpa akhir dalam diskursus kebijakan pengentasan kemiskinan dan stunting?
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.