BREAKING NEWS
Jumat, 19 Juni 2026

Polemik MBG: Jebakan Laboratorium Kemiskinan, Membangun Fondasi Kebahagiaan

BITV Admin - Jumat, 19 Juni 2026 10:18 WIB
Polemik MBG: Jebakan Laboratorium Kemiskinan, Membangun Fondasi Kebahagiaan
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri di Palmerah, Jakarta, pada Jumat, 13 Februari 2026. (foto: Setpres/yt)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Tentu jawabannya bukan memilih salah satu. Wellbeing tidak mungkin dicapai tanpa menyelesaikan persoalan dasar.

Namun demikian, pembangunan juga tidak boleh berhenti hanya pada pengurangan kemiskinan.

Indonesia harus mulai memandang MBG, penguatan sektor pangan, dan pembangunan pertanian sebagai jembatan menuju agenda yang lebih besar: membangun masyarakat yang sehat, produktif, sejahtera, dan bahagia.

Dalam perspektif negara kesejahteraan (welfare state), tugas pemerintah bukan hanya mengurangi angka kemiskinan, tetapi menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap warga berkembang secara optimal.

Karena itu, perdebatan yang lebih produktif bukanlah apakah MBG harus dibubarkan atau apakah pembukaan lahan pertanian harus dihentikan, melainkan bagaimana kedua instrumen tersebut dapat diperbaiki agar lebih efektif, transparan, berkelanjutan, dan mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas.

Kebahagiaan Penduduk Indonesia

Indonesia sendiri menunjukkan gambaran yang menarik.

Dalam World Happiness Report 2025, Indonesia memperoleh skor sekitar 5,6 dan berada pada peringkat 87 dunia.

Posisi ini memang masih jauh di bawah negara-negara dengan tingkat kesejahteraan tinggi, tapi menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki modal sosial yang kuat berupa gotong royong, solidaritas komunitas, dan budaya saling membantu yang menjadi salah satu faktor penting pembentuk kebahagiaan.

Di tingkat nasional, BPS melalui Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) mencatat bahwa Indeks Kebahagiaan Indonesia tahun 2021 mencapai 71,49, meningkat dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 70,69.

BPS telah melaksanakan kajian tentang tingkat kebahagiaan beberapa kali, yaitu uji coba tahun 2012 dan 2013, kemudian survei pengukuran tingkat kebahagiaan (SPTK) sebanyak 3 kali, tahun 2014, 2017, dan 2021.

Pengukuran ini tidak hanya melihat kondisi ekonomi, tetapi juga mencakup tiga dimensi utama, yaitu kepuasan hidup (life satisfaction), perasaan (affect), dan makna hidup (eudaimonia).

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kuliah Tinggi Tapi Sulit Kerja? Ini Penyebab Banyak Lulusan Jadi Pengangguran Terdidik
Mentan Amran Usulkan Menu MBG Sajikan Telur dan Ayam Tiga Kali Seminggu
Kejagung Jerat Tersangka Keenam Kasus Korupsi MBG, Fakta Baru Terungkap!
Punya Usaha dan Butuh Modal? Cek KUR BNI 2026 Pinjaman Rp100 Juta, Cicilan Terendah Mulai Rp1,9 Juta
Rico Waas Ajak Pemuda dan Mahasiswa Jadi Agen Perubahan untuk Kemajuan Kota Medan
Pemko Medan Optimistis Jadi Pusat MICE Nasional, Andalkan Perdagangan dan Keberagaman Budaya
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru