Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA - Ketimpangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri di Indonesia kembali menjadi sorotan.
Jargon link and match yang sudah digaungkan sejak 1990-an dinilai belum mampu menjawab persoalan utama ketidaksesuaian keahlian atau skill mismatch di pasar kerja.
Akibat kondisi tersebut, lulusan pendidikan tinggi masih banyak yang belum terserap dunia kerja.
Baca Juga:
Sebagian justru menjadi pengangguran terdidik karena keahlian yang dimiliki tidak sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berubah cepat.
Peneliti utama SMERU Research Institute, Asep Suryahadi, mengatakan masalah utama terletak pada cepatnya perubahan dunia industri yang tidak diimbangi sistem pendidikan.
"Akibatnya, keahlian yang diajarkan di kelas sering kali sudah ketinggalan saat siswa lulus," kata dia, Jumat (19/6/2026).
Menurut Asep, perubahan industri dipicu oleh perkembangan teknologi, digitalisasi, otomatisasi, hingga transisi menuju ekonomi hijau.
Namun, proses pembaruan kurikulum pendidikan di Indonesia cenderung lambat dan memakan waktu panjang.
Ia juga menyoroti lemahnya keterlibatan industri dalam penyusunan kurikulum, standar kompetensi, hingga fasilitas praktik di lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi.
"Industri jarang dilibatkan dalam penyusunan standar kompetensi, desain laboratorium, dan transfer pengetahuan langsung," ujarnya.
Selain itu, keterbatasan anggaran membuat banyak sekolah vokasi masih menggunakan peralatan yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan industri modern.
Di sisi lain, Head of Economic Research Division Pefindo, Suhindarto, menilai masalah skill mismatch tidak hanya berasal dari sisi pendidikan, tetapi juga dari sisi permintaan tenaga kerja.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.