BREAKING NEWS
Sabtu, 22 Agustus 2026

Pidato Presiden Prabowo di Senayan: dari riuh kritik ke politik hasil

Administrator - Sabtu, 22 Agustus 2026 11:41 WIB
Pidato Presiden Prabowo di Senayan: dari riuh kritik ke politik hasil
Presiden Prabowo Subianto, dalam Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR RI Tahun Sidang 2026–2027 di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026. (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Maka, salah satu karakter yang mulai terlihat pada tahun kedua pemerintahan Prabowo adalah usaha melanjutkan, sekaligus memperkuat pembangunan yang lebih tersebar secara geografis. Indonesia tidak cukup sekadar tumbuh; pertumbuhannya juga harus semakin tersebar.

Di situlah gagasan Indonesia-sentris memperoleh makna yang lebih konkret. Daerah luar Jawa jangan hanya menjadi pemasok bahan mentah. Ia harus menjadi tempat tumbuhnya industri, investasi, pekerjaan, dan nilai tambah.

Tentu satu semester belum cukup untuk mengatakan ketimpangan Jawa dan luar Jawa telah teratasi. Ujian sebenarnya adalah apakah kecenderungan ini bertahan beberapa tahun ke depan dan apakah investasi tersebut benar-benar meningkatkan pendapatan serta kesempatan ekonomi masyarakat setempat.

Kemiskinan juga bergerak turun. BPS mencatat tingkat kemiskinan September 2025 sebesar 8,25 persen, atau sekitar 23,36 juta orang.

Itu kemajuan. Tetapi 23 juta lebih manusia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan jelas bukan angka kecil. Keberhasilan harus diakui dengan kewajaran. Masalah pun harus dihadapi tanpa ditutupi. Harus.

Politik pembuktian

Dalam ilmu komunikasi politik terdapat konsep framing, yang secara sederhana berarti cara membingkai kenyataan.

Profesor Robert M. Entman, ilmuwan komunikasi politik dari George Washington University, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa framing bekerja dengan memilih bagian tertentu dari kenyataan untuk dibuat lebih menonjol. Dengan cara itu publik dibantu memahami apa masalahnya, apa penyebabnya, bagaimana menilainya, dan apa jalan keluarnya.

Konsep ini menarik untuk membaca pidato Prabowo. Selama setahun terakhir pemerintah kerap berada dalam bingkai kritik: program terlalu besar, anggaran terlalu berat, keputusan terlalu cepat, pemerintah terlalu ambisius.

Di Senayan, Prabowo mencoba menggeser bingkai tersebut. Pesannya kurang lebih: jangan hanya menilai kebijakan dari besarnya ambisi. Lihat pula hasilnya.

Contohnya pangan. Pemerintah menyampaikan kemajuan produksi dan ketersediaan sejumlah komoditas. Pemerintah juga menyebut telah memangkas 145 aturan yang menghambat penyaluran pupuk.

Bagi orang kota, 145 aturan terdengar teknis. Bagi petani, pertanyaannya sederhana: pupuk tersedia atau tidak? Datang tepat waktu atau terlambat? Harganya terjangkau atau tidak?

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Cabai Rawit Merah Melonjak ke Rp70.450/Kg, Telur Ayam Ikut Naik, Ini Rincian Harga Pangan Hari Ini
Sempat Dinyatakan Sembuh, Pelajar Korban Dugaan Keracunan MBG di Karo Kembali Kejang
Anggota DPD RI dari Bali Serahkan Tongkat Ganesha kepada Jokowi, Singgung Estafet Kepemimpinan ke Gibran
Luhut Ingatkan Kepala BGN: Pembangunan SPPG Tak Boleh Sekadar Kejar Bisnis
197 Ribu Siswa Sarawak Diliburkan, Asap Karhutla Kalimantan Kini Jadi Sorotan Media Malaysia-Singapura
Bukan Cuma Perwira, RI Buka Pertukaran Prajurit hingga Tamtama dengan Militer China Lewat Latihan Heping Garuda
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru