BREAKING NEWS
Sabtu, 22 Agustus 2026

Pidato Presiden Prabowo di Senayan: dari riuh kritik ke politik hasil

Administrator - Sabtu, 22 Agustus 2026 11:41 WIB
Pidato Presiden Prabowo di Senayan: dari riuh kritik ke politik hasil
Presiden Prabowo Subianto, dalam Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR RI Tahun Sidang 2026–2027 di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026. (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Saya juga melihat Prabowo bukan pemimpin yang lahir di ruang kosong. Dalam beberapa hal ia merupakan kelanjutan khas dari mata rantai kepemimpinan Presiden-Presiden Indonesia sebelumnya, tentu dengan karakter dan tekanannya sendiri.

Dari Soekarno ada semangat kedaulatan dan keberanian mengatakan Indonesia harus berdiri di atas kaki sendiri. Dari Soeharto tampak perhatian pada pangan, pertanian, stabilitas, dan pembangunan desa. Era BJ Habibie meninggalkan warisan mengenai pentingnya teknologi dan kualitas manusia. Era Abdurrahman Wahid dan Megawati mengingatkan pentingnya kebangsaan dan perlindungan kelompok masyarakat yang rentan. Era Susilo Bambang Yudhoyono memperkuat perlindungan sosial dan pembangunan yang makin terukur. Joko Widodo meninggalkan tekanan kuat pada infrastruktur, hilirisasi, serta pembangunan yang lebih Indonesia-sentris.

Prabowo tampaknya mencoba meramu warisan itu dengan capnya sendiri: negara yang kuat, tetapi kehadirannya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari—dari dapur keluarga dan pendidikan anak-anak miskin, hingga sawah petani, kampung nelayan, dan ekonomi desa.

Dalam konteks pemerataan wilayah pun terdapat kesinambungan. Jika era Jokowi mempercepat konektivitas dan pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah, tantangan Prabowo adalah membuat infrastruktur dan wilayah tersebut semakin berisi kegiatan ekonomi: investasi, industri, pekerjaan, produktivitas, dan kesejahteraan.

Sejarawan Edward Hallett Carr, yang pernah mengajar di University of Cambridge, Inggris, melalui What Is History? mengingatkan bahwa fakta sejarah memperoleh arti ketika ditempatkan dalam konteks dan hubungan sebab-akibat.

Pelajarannya sederhana. Jangan menilai pemerintahan hanya dari satu kesalahan, kekhilafan dalam satu pidato, satu potongan video, atau satu slip of the tongue—keseleo lidah. Lihat garis besarnya. Lihat rangkaian kebijakannya. Lihat hasilnya.

Prinsip itu berlaku pula bagi pemerintah. Satu angka bagus tidak boleh digunakan seolah seluruh persoalan bangsa telah selesai. Sejauh ini, saya tidak menangkap pretensi seperti itu dalam dua pidato Prabowo. Presiden justru berulang kali menempatkan capaian sebagai bagian dari pekerjaan yang masih harus dilanjutkan.

Menjawab dengan Logis

Menurut saya, inilah salah satu pelajaran komunikasi terpenting dari dua pidato Prabowo. Presiden tidak perlu memenangkan setiap perdebatan di media sosial. Pemerintah tidak mungkin menjawab setiap meme, sindiran, potongan video, dan komentar sinis satu per satu. Jawaban paling kuat adalah hasil yang dapat diperiksa.

Kalau dikatakan ekonomi ambruk, tunjukkan pertumbuhan, sekaligus jelaskan sumbernya. Kalau investor disebut lari, buka realisasi investasi, persebarannya, dan pekerjaan yang tercipta.

Kalau pemerintah dianggap tidak memikirkan petani, tunjukkan produksi, cadangan pangan, pupuk, harga di tingkat petani, dan lainnya.

Kalau MBG disebut proyek politik, jangan marah. Buktikan beberapa tahun mendatang melalui perbaikan gizi, kehadiran sekolah, kemampuan belajar, dan bergeraknya ekonomi lokal. Ada perubahan positif.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Cabai Rawit Merah Melonjak ke Rp70.450/Kg, Telur Ayam Ikut Naik, Ini Rincian Harga Pangan Hari Ini
Sempat Dinyatakan Sembuh, Pelajar Korban Dugaan Keracunan MBG di Karo Kembali Kejang
Anggota DPD RI dari Bali Serahkan Tongkat Ganesha kepada Jokowi, Singgung Estafet Kepemimpinan ke Gibran
Luhut Ingatkan Kepala BGN: Pembangunan SPPG Tak Boleh Sekadar Kejar Bisnis
197 Ribu Siswa Sarawak Diliburkan, Asap Karhutla Kalimantan Kini Jadi Sorotan Media Malaysia-Singapura
Bukan Cuma Perwira, RI Buka Pertukaran Prajurit hingga Tamtama dengan Militer China Lewat Latihan Heping Garuda
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru