BREAKING NEWS
Sabtu, 22 Agustus 2026

Pidato Presiden Prabowo di Senayan: dari riuh kritik ke politik hasil

Administrator - Sabtu, 22 Agustus 2026 11:41 WIB
Pidato Presiden Prabowo di Senayan: dari riuh kritik ke politik hasil
Presiden Prabowo Subianto, dalam Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR RI Tahun Sidang 2026–2027 di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026. (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Di situlah kebijakan diuji. Rakyat tidak makan peraturan. Petani tidak menanam statistik. Fakta yang mereka rasakan adalah apakah kebijakan negara membuat kehidupan lebih baik.

Keberpihakan

Di sini saya melihat benang merah MBG, Sekolah Rakyat, Kampung Nelayan Merah Putih, Koperasi Desa Merah Putih, kebijakan pupuk, pangan, dan berbagai program kesehatan.

Sasarannya berbeda, tetapi arah sosialnya serupa: membawa negara lebih dekat kepada kelompok yang selama ini berada di bagian bawah piramida ekonomi.

MBG menyentuh kebutuhan gizi anak, sekaligus meringankan beban keluarga. Sekolah Rakyat mencoba membuka pendidikan berkualitas bagi anak dari keluarga miskin. Kampung Nelayan Merah Putih menyasar masyarakat pesisir yang menghasilkan pangan bagi negeri, tetapi tidak selalu menikmati kesejahteraan yang sepadan. Koperasi Desa Merah Putih mencoba memperkuat posisi ekonomi masyarakat desa.

Program-program itu tentu tidak otomatis berhasil hanya karena niatnya baik.

MBG harus aman, bergizi, efisien, dan bebas kebocoran. Sekolah Rakyat harus menghasilkan lulusan berkualitas, bukan sekadar gedung bagus. Koperasi Desa jangan menjadi papan nama baru. Kampung Nelayan jangan berhenti pada pembangunan fisik tanpa peningkatan pendapatan nelayan.

Namun arah keberpihakannya layak dicatat. Ekonom Amartya Sen, yang lama mengajar di Harvard University, Amerika Serikat, dan menerima Nobel Ekonomi 1998, memperkenalkan gagasan development as freedom: pembangunan sebagai perluasan kebebasan dan kemampuan manusia.

Pembangunan, menurut kerangka ini, tidak cukup dinilai dari besarnya ekonomi. Pembangunan harus membuat manusia memiliki kemampuan lebih besar menentukan kehidupannya: anak memperoleh pendidikan, masyarakat mendapatkan gizi dan kesehatan, keluarga miskin mempunyai kesempatan naik kelas, dan orang dewasa memperoleh pekerjaan layak.

Dari perspektif itu, MBG dan Sekolah Rakyat bukan semata pengeluaran sosial. Keduanya dapat dibaca sebagai investasi manusia.

Pertanyaannya bukan hanya berapa triliun rupiah yang dikeluarkan hari ini. Ada pertanyaan yang lebih urgen: berapa mahal harga yang harus dibayar Indonesia 20 tahun mendatang jika jutaan anak tumbuh kurang gizi, berpendidikan rendah, dan tidak mampu bersaing?

Mata rantai kepemimpinan

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Cabai Rawit Merah Melonjak ke Rp70.450/Kg, Telur Ayam Ikut Naik, Ini Rincian Harga Pangan Hari Ini
Sempat Dinyatakan Sembuh, Pelajar Korban Dugaan Keracunan MBG di Karo Kembali Kejang
Anggota DPD RI dari Bali Serahkan Tongkat Ganesha kepada Jokowi, Singgung Estafet Kepemimpinan ke Gibran
Luhut Ingatkan Kepala BGN: Pembangunan SPPG Tak Boleh Sekadar Kejar Bisnis
197 Ribu Siswa Sarawak Diliburkan, Asap Karhutla Kalimantan Kini Jadi Sorotan Media Malaysia-Singapura
Bukan Cuma Perwira, RI Buka Pertukaran Prajurit hingga Tamtama dengan Militer China Lewat Latihan Heping Garuda
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru