Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA - Bahan bakar minyak (BBM) campuran biodiesel B50 disebut menarik perhatian sejumlah negara, termasuk Jepang, Malaysia, dan negara-negara Eropa. Mereka disebut datang ke Indonesia untuk mempelajari pengembangan dan pengujian bahan bakar campuran biodiesel tersebut.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan Indonesia menjadi salah satu negara yang lebih dulu melakukan pengujian B50.
"Jadi pertama kali Indonesia melakukan pengujian ini dan banyak yang mengikuti, bahkan sekarang menjadi ketertarikan negara-negara lain sekarang belajar ke kami. Jadi ada dari Jepang, dari Malaysia, dari Eropa sekarang datang belajar ke kami, Pak," ujar Eniya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR, dikutip Kamis (10/9/2026).
Baca Juga:
Menurut Eniya, pengembangan B50 menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kemandirian energi nasional. Program tersebut juga diharapkan mengurangi ketergantungan terhadap impor solar sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.
Eniya menyebut penerapan B50 diperkirakan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 44,46 juta ton CO2. Dari sisi ekonomi, program tersebut diproyeksikan menghasilkan penghematan hingga Rp170 triliun pada 2026.
Pengembangan industri biodiesel juga dinilai berpotensi membuka lapangan kerja. Eniya memperkirakan sekitar 2,1 juta tenaga kerja dapat terserap dari pengembangan industri biodiesel pada 2026.
Pemerintah juga terus memperkuat standar B50 agar kualitas dan keamanan bahan bakar tetap terjaga. Campuran B50 terdiri dari 50% Fatty Acid Methyl Ester (FAME), lebih tinggi dibandingkan campuran B40.
Dari sekitar 20 parameter yang dievaluasi sejak pengujian B40, sejumlah spesifikasi B50 diperketat. Salah satunya terkait kandungan air yang diturunkan dari maksimal 320 parts per million (ppm) pada B40 menjadi maksimal 300 ppm pada B50.
Selain itu, kandungan monogliserida dalam FAME juga diperketat. Batas maksimal yang sebelumnya 0,5% massa kini menjadi 0,47% massa.
"Monogliserit kandungan yang ada di FAME itu maksimum yang tadinya 0,5% menjadi 0,47% massa," kata Eniya.
Standar B50 juga mencatat peningkatan stabilitas oksidasi. Ketahanan bahan bakar terhadap proses oksidasi yang sebelumnya 720 menit ditingkatkan menjadi 900 menit.
"Stabilan oksidasi, jadi ketahanan dari bahan bakar sendiri untuk tidak teroksidasi itu stabil. Dulunya 720 menit, sekarang menjadi lebih lama lagi. Jadi stabilitasnya meningkat menjadi 900 menit," jelasnya.
Pemerintah turut menambahkan dua parameter baru dalam spesifikasi B50 yang sebelumnya belum diatur, yakni temperatur distilasi dan cleanliness atau tingkat kebersihan bahan bakar.
"Ada tambahan dua parameter yang baru yaitu temperatur distilasi dan cleanliness," pungkas Eniya.
Penguatan standar tersebut diharapkan membuat B50 semakin aman digunakan sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap kemampuan Indonesia dalam mengembangkan bahan bakar berbasis biodiesel.* (d/dh)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.