Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Sebelum meninggal dunia, dr. Icha menjadi perhatian publik setelah diduga mengalami intimidasi saat bertugas di IGD RS Leona Kefamenanu ketika menangani seorang pasien anak korban gigitan ular.
Paman almarhumah, Victor Manbait, mengatakan dr. Icha telah menangani pasien sesuai standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit dan arahan dokter spesialis anak.
Namun, menurut Victor, situasi memanas ketika keluarga pasien meminta pemberian vaksin tertentu yang dinilai belum direkomendasikan secara medis dan tidak tersedia di rumah sakit.
Victor menyebut dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD TTU kemudian mendatangi ruang pelayanan dan menyampaikan protes dengan nada tinggi.
Salah seorang di antaranya disebut sempat menunjuk wajah dr. Icha saat meminta penjelasan.
"Dokter Icha mengaku masih ketakutan dan mengalami tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas," ujar Victor.
Dua anggota DPRD TTU yang disebut dalam kasus tersebut, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah telah melakukan intimidasi terhadap dr. Icha maupun tenaga kesehatan lainnya.
"Kami tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis. Informasi yang beredar tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya terjadi," kata Therensius.
Ia menjelaskan, saat itu keluarga pasien berada dalam kondisi panik sehingga dirinya berbicara dengan nada yang lebih tinggi.
"Kami akui nada bicara sempat meninggi karena panik melihat kondisi pasien. Tetapi sama sekali tidak ada niat mengintimidasi dokter ataupun tenaga kesehatan," ujarnya.
Sementara itu, Norbertus Tubani mengatakan dirinya bersama Therensius hanya meminta penjelasan mengenai kondisi pasien.
Setelah memperoleh penjelasan dari dokter, keduanya mengaku telah menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus permohonan maaf kepada Direktur RS Leona, dokter, dan tenaga kesehatan yang bertugas.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.