Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
"Kalau antisipasi, terpaksa beli yang ketengan di pinggir jalan karena tidak mungkin menelantarkan penumpang. Kerap terjadi di SPBU-nya kosong, tapi di depannya ada jualan pertalite kualitasnya juga nggak bisa kita pastikan dan harganya lebih mahal," ujarnya.
Menurut Alwi, penggunaan solar eceran dalam jumlah tertentu juga dapat berdampak pada kondisi mesin kendaraan apabila bahan bakar tersebut sudah tercampur dengan zat lain.
"Kadang-kadang sekali mengisi 3 - 4 liter, kalau kualitasnya bagus sebetulnya nggak ada masalah sama kita, walaupun dinaikkan. Ini kadang ada campurannya, apalah itu namanya sehingga berpengaruh ke mesin," ucapnya.
Alwi membandingkan kondisi distribusi BBM antara Pulau Jawa dan Sumatera.
Menurutnya, kendala antrean panjang lebih banyak terjadi setelah kendaraan memasuki wilayah Sumatera.
"Sepanjang lintas Jawa itu, nggak ada kendala di SPBU tapi ketika kita setelah nyebrang, mulai dari Lampung sampai ke Medan itu semua bermasalah. Semua kondisinya mengantre," jelasnya.
Ia menyebut persoalan kelangkaan solar tersebut telah berlangsung sekitar tiga bulan terakhir.
Kondisi yang sebelumnya masih bisa diatasi karena ada beberapa SPBU yang memiliki stok, kini semakin meluas.
"Itulah sekarang kita hadapi, kalau kami terparah 3 bulan terakhir ini. Sebelumnya memang ada juga tapi masih ada SPBU yang bisa diharapkan tetapi ini hampir merata," keluh Alwi.
Menurut dia, hal yang paling merugikan bagi pengemudi adalah ketika sudah menunggu lama tetapi tetap tidak mendapatkan bahan bakar.
"Yang sakitnya, ketika sampai udah giliran kita habis katanya dan jadinya bermalam," ungkapnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menyatakan terus melakukan upaya optimalisasi distribusi BBM di wilayah Sumatera Utara.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.