BREAKING NEWS
Minggu, 17 Mei 2026

Pengamat: Ketergantungan PSI pada Jokowi Bisa Jadi Bumerang di Pemilu 2029

Nurul - Minggu, 17 Mei 2026 13:01 WIB
Pengamat: Ketergantungan PSI pada Jokowi Bisa Jadi Bumerang di Pemilu 2029
Presiden ke-7 RI Joko Widodo. (foto: PSI/yt)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Pakar komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga, menilai ketergantungan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo berpotensi menjadi bumerang menjelang Pemilu Legislatif 2029.

Pernyataan itu disampaikan Jamil menanggapi kabar bahwa kondisi kesehatan Jokowi disebut telah pulih hingga 99 persen dan mantan presiden itu dikabarkan akan mulai berkeliling Indonesia pada Juni 2026.

Menurut Jamil, langkah tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Jokowi akan kembali turun langsung membantu membesarkan PSI di berbagai daerah.

Baca Juga:

Hal itu dinilai sejalan dengan pernyataan Jokowi dalam agenda Rakernas PSI di Makassar pada 31 Januari 2026 lalu.

"Hal itu menunjukkan PSI masih sangat bergantung pada figur Jokowi untuk mendongkrak elektabilitas partai," kata Jamil dalam keterangannya, Minggu, 17 Mei 2026.

Ia menilai, hingga saat ini PSI belum memiliki figur internal yang benar-benar kuat secara elektoral.

Termasuk Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep yang dinilai belum mampu mendongkrak elektabilitas partai secara signifikan.

Menurut Jamil, Kaesang bersama Ketua Harian PSI Ahmad Ali dan jajaran pengurus partai sebenarnya telah berkeliling ke berbagai daerah untuk melakukan konsolidasi politik.

Bahkan, PSI sempat menyebut Jawa Tengah dan Makassar sebagai wilayah yang diproyeksikan menjadi basis kekuatan partai berlambang gajah tersebut.

Namun, upaya itu dinilai belum membuahkan hasil berarti.

"Hasil survei terakhir menunjukkan elektabilitas PSI masih berada di kisaran 1,2 persen. Ini menunjukkan para petinggi PSI belum mampu mengerek dukungan publik secara signifikan," ujarnya.

Jamil mengatakan, kondisi itu membuat PSI kini seolah menggantungkan harapan besar kepada Jokowi agar bisa menembus parlemen pada Pemilu 2029.

Meski begitu, ia menilai strategi tersebut sangat spekulatif.

Menurut dia, pengaruh politik Jokowi saat ini tidak lagi sekuat beberapa tahun lalu.

Masa keemasan politik mantan Wali Kota Solo itu dinilai mulai memudar seiring munculnya berbagai kontroversi yang menyeret namanya ke ruang publik.

"Jokowi tidak lagi dipandang sebagai sosok yang mampu menghipnotis publik seperti dulu. Kini justru lebih sering dikaitkan dengan berbagai kontroversi politik," kata Jamil.

Ia menambahkan, basis loyalis Jokowi juga belum tentu cukup kuat untuk mendongkrak suara PSI secara nasional.

Bahkan, terlalu bergantung pada figur Jokowi justru dinilai berpotensi memunculkan sentimen negatif dari publik terhadap PSI.

"Berharap pada Jokowi untuk mendongkrak elektabilitas PSI bisa berujung pada kekecewaan. Kehadiran Jokowi membawa panji PSI ke berbagai daerah justru bisa menjadi bumerang," ujarnya.

PSI sendiri hingga kini terus melakukan konsolidasi internal sebagai bagian dari persiapan menghadapi kontestasi politik 2029 mendatang.

Namun tantangan utama partai tersebut dinilai masih terletak pada upaya membangun figur dan identitas politik yang lebih mandiri di luar bayang-bayang Jokowi.*


(vo/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Baik-Buruk Indonesia
Harga Batu Bara Melonjak! Strategi India Ini Jadi Pemicu Utama
Tiket Pesawat Bisa Makin Mahal, AHY Ungkap Biang Keroknya
Posisi Adies Kadir di DPR Diganti Anaknya, Pengamat Bongkar Politik Dinasti di Golkar: “Keluarga Lo Lagi, Keluarga Lo Lagi”
Rupiah Terancam Jebol Rp17.800 per Dolar AS Pekan Depan!
Kecil Kemungkinan Jokowi Terlibat Kasus Chromebook Nadiem Makarim, Ini Alasannya
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru