BREAKING NEWS
Senin, 29 Juni 2026

Jokowi Injak Kepala Kerbau dalam Prosesi Adat, Ini Respons PDIP

Dharma - Senin, 29 Juni 2026 10:15 WIB
Jokowi Injak Kepala Kerbau dalam Prosesi Adat, Ini Respons PDIP
Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) saat mengikuti prosesi penyematan gelar adat "Baginda Pemuka Bangsa" di Lampung. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menanggapi beredarnya foto Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) saat mengikuti prosesi penyematan gelar adat "Baginda Pemuka Bangsa" di Lampung.

Foto tersebut menjadi perbincangan di media sosial karena memperlihatkan Jokowi meletakkan kaki di atas kepala kerbau dalam rangkaian prosesi adat.

Politikus PDIP, Guntur Romli, menilai foto tersebut memiliki makna simbolis.

Baca Juga:

Menurut dia, tindakan itu mencerminkan sikap yang dikaitkannya dengan ambisi kekuasaan yang masih terus dipertahankan.

"Meskipun sudah menjadi presiden dua periode, menjadikan anaknya Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden melalui manipulasi di Mahkamah Konstitusi, menantunya Bobby Nasution sebagai Gubernur Sumatera Utara, serta Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI," kata Guntur Romli, Senin (29/6/2026).

Guntur juga menegaskan bahwa dalam prosesi tersebut Jokowi menginjak kepala kerbau, bukan kepala banteng yang menjadi lambang PDIP.

Menurutnya, kerbau dan banteng merupakan hewan yang berbeda meskipun sama-sama berasal dari subfamili Bovinae.

Ia mengatakan banteng merupakan satwa yang dilindungi sehingga tidak dijadikan hewan kurban ataupun tumbal.

Sementara itu, kerbau merupakan hewan ternak yang umum digunakan dalam berbagai tradisi adat di sejumlah daerah.

Selain itu, Guntur mengaitkan peristiwa tersebut dengan penelitian yang pernah dilakukan Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, dalam disertasinya mengenai pola kepemimpinan Jokowi.

Menurut Guntur, penelitian tersebut menyebut adanya konsep "segitiga populisme otoriter" (the triangle of authoritarian populism), yang disebut memadukan feodalisme, populisme, dan karakter Machiavellianisme dalam praktik politik.

"Ini memadukan feodalisme dengan mempersepsikan dirinya sebagai seorang raja; populisme dengan membagi-bagi amplop dan sembako untuk menarik rakyat; dan karakter Machiavelianisme yang menempatkan kekuasaan sebagai segala-galanya," ujar Guntur.

Editor
: Nurul
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.868 per Dolar AS, Pasar Masih Waspadai Ketegangan Iran-AS
Warga Menanti 81 Tahun, Bobby Nasution Wujudkan Pembangunan Jalan Sipiongot: Bukan Sekadar Janji Politik
Jokowi dan Nafsu Kuasa yang Belum Padam
Profil Ginka Febriyanti Ginting, Relawan Prabowo-Gibran yang Kini Jadi Komisaris Pertamina Retail
Analisis Prof. Didik: Safari Politik Jokowi Dinilai Berpotensi Ganggu Stabilitas Ekonomi
Peringati 10 Muharam, Ketua DPC Hanura Langkat Datok Abd Rasyidin Pane Santuni 50 Anak Yatim
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru