BREAKING NEWS
Kamis, 06 Agustus 2026

Pengamat Nilai Reshuffle Kabinet Bisa Jadi Opsi Tingkatkan Kepuasan Publik

Johan - Kamis, 06 Agustus 2026 20:13 WIB
Pengamat Nilai Reshuffle Kabinet Bisa Jadi Opsi Tingkatkan Kepuasan Publik
Pengantar Presiden Prabowo pada Sidang Kabinet Paripurna, Kantor Presiden, 22 Januari 2025. (foto: Setpres/yt)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Namun apabila dinilai tidak sesuai dengan data pemerintah, hasil tersebut bisa saja tidak dijadikan acuan.

"Intinya, kalau hasil survei sejalan dengan upaya perbaikan pemerintah selama ini maka hasil survei perlu jadi masukan konstruktif. Namun jika hasil survei tak sesuai data pemerintah, bisa diabaikan. Dalam demokrasi survei opini publik bagian dari partisipasi politik dalam melihat kinerja pemerintahan," sambungnya.

Adi juga menilai perombakan kabinet dapat menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan kembali tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintah.

"Reshuffle salah satunya untuk memulihkan kepercayaan publik. Dari data survei yang saya punya (Parameter Politik Indonesia) di bulan Mei, tapi tidak dirilis, kepercayaan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo masih cukup tinggi mencapai 70 persen. Meski harus diakui, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah secara umum (kinerja wapres, menteri, wamen, dan para pembantu presiden) di kisaran 65 persen," kata Adi.

Ia menilai adanya perbedaan angka tersebut menunjukkan masih ada pembantu presiden yang dinilai belum bekerja secara maksimal.

"Ada gap. Satu sisi publik puas dengan kinerja Presiden, sisi lainnya kepuasan terhadap pemerintahan secara umum berkurang. Itu artinya, kinerja pembantu presiden tak perform. Di situlah pentingnya reshuffle untuk naikkan kepercayaan publik," ujarnya.

Selain perombakan kabinet, Adi menilai peningkatan kondisi ekonomi, penyaluran bantuan sosial, dan berbagai program bantuan langsung kepada masyarakat juga dapat meningkatkan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah.

Menurutnya, pemerintah selama ini memiliki ukuran sendiri dalam mengevaluasi kinerja sehingga hasil survei bukan menjadi satu-satunya acuan.

"Selama ini pemerintah tidak terlampau menjadikan hasil survei sebagai parameter kinerja mereka. Buktinya saat kepuasan publik mencapai 80 persen, tak sedikitpun pemerintah menjadikan hasil survei itu sebagai kebanggaan. Biasa saja. Karena pemerintah punya alat ukur sendiri untuk bekerja. Apalagi saat kepuasan terhadap kinerja pemerintah turun, makin tak jadi acuan," ujar Adi.

Ia pun menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa hasil survei sebaiknya dijadikan masukan apabila dinilai relevan dengan kondisi yang dihadapi pemerintah.

"Kalau pemerintah anggap hasil survei itu rasional untuk masukan, sebaiknya lakukan perbaikan. Tapi kalo hasil survei dianggap tak rasional, abaikan saja," imbuhnya.* (d/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Satgas PRR Perkuat Pengawasan Pemulihan Pascabencana di Aceh, Pastikan Dana Rp1,6 Triliun Tepat Sasaran
Siswa Dilarang Bawa Pulang Makanan MBG, Ini Penjelasan Kepala BGN
Kutip Pesan BJ Habibie, Prabowo: Indonesia Tak Perlu Takut, Ada Jutaan Orang Pintar yang Bisa Bangun Bangsa
Satgas PRR Dorong Percepatan Huntap Aceh Tamiang, 4.159 KK Terdampak Bencana Segera Dipulihkan
Ini Alasan Hakim PN Jaksel Tolak Permohonan Praperadilan Ganti Rugi Roy Suryo
Wapres Gibran Tinjau Infrastruktur Pascabencana di Bireuen, Kapolda Aceh Pastikan Pengamanan Berjalan Lancar
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru