JAKARTA – Harga smartphone dan PC diprediksi akan naik signifikan pada 2026.
Lonjakan harga ini dipicu oleh kenaikan komponen Random Access Memory (RAM) secara global, yang sebagian besar disebabkan tingginya permintaan dari industri kecerdasan buatan (AI) untuk server dan data center.
Produsen smartphone merespons kenaikan harga memori dengan dua strategi utama: menaikkan harga jual dan memangkas kapasitas RAM pada ponsel kelas menengah dan bawah.
Model entry-level dan mid-range diperkirakan akan turun kapasitas RAM, sementara ponsel dengan RAM besar, seperti 16 GB, diprediksi semakin langka.
Contohnya, iQoo 15 yang baru rilis di Indonesia pada Desember 2025, dibanderol Rp 13 juta untuk versi dasar 12/256 GB, naik 30 persen dari pendahulunya, iQoo 13, yang dijual Rp 10 juta.
Sementara itu, produsen Xiaomi juga memperingatkan kenaikan harga ponsel akibat melonjaknya harga chip memori.
Tak hanya smartphone, PC juga terdampak.
Laporan International Data Corporation (IDC) menyebut harga PC berpotensi naik 15–20 persen akibat lonjakan harga RAM dan GPU.
Kenaikan ini diperkirakan akan menurunkan pengiriman PC global hingga 4,9 persen, serta meningkatkan dominasi PC rakitan OEM dibanding perakit lokal.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi konsumen yang ingin merakit PC sendiri, terutama untuk mendukung teknologi AI yang membutuhkan memori lebih besar.
IDC memperkirakan tren AI on-device, seperti Copilot+, akan melambat karena keterbatasan pasokan memori, memaksa produsen menahan pengembangan atau menurunkan spesifikasi perangkat.
Dengan kenaikan harga yang sudah terlihat sejak akhir 2025, pengguna disarankan untuk mempersiapkan anggaran lebih besar jika ingin membeli HP atau PC pada tahun depan.