IHSG Dibuka Melemah di Level 7.084, Tekanan Global Bikin Pasar Gemetar
JAKARTA Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada awal perdagangan Rabu, 25 Maret 2026, meski penurunannya masih terbatas.I
EKONOMI
MEDAN – Ketua Yayasan Pusuk Buhit Efendy Naibaho sependapat dengan pemikiran kritis dari akademisi dan aktivis budaya, Shohibul Anshor Siregar, terkait hubungan antara orang Batak dengan Pusuk Buhit.
"Saya setuju pemikiran Shohibul Anshor Siregar. Karena Pusuk Buhit memang lebih awal ada. Sehingga Pusuk Buhit-lah yang memiliki orang Batak. Bukan sebaliknya," tegas Efendy Naibaho, Senin, 19/05/2025.
Lalu, kenapa orang Batak selalu mengklaim sebagai pemilik Pusuk Buhit? "Mungkin karena sudah bermukim puluhan tahun di sana. Bahkan ratusan tahun. Orang Batak mengusahai lahan di Pusuk Buhit dan menjadikannya sebagai tempat pemukiman yang padat dan kompak," tutur Efendy Naibaho.

Mantan anggota DPRD Sumut yang saat ini menetap di Siogung-ogung, Kabupaten Samosir itu juga mengaku kakek mereka sudah lama tinggal di Siogung-ogung.
"Oppung atau kakek kami pun, sudah lama tinggal di Siogung-ogung dan membangun rumah di kaki gunung Pusuk Buhit," jelas Efendy Naibaho melalui pesan singkat WhatApps.
Efendy Naibaho bercerita, pernah suatu ketika pihak Kehutanan datang memasang patok-patok. "Kalau tidak salah, patok SK 579 yang menetapkan tanah itu sebagai register. Kami masyarakat ramai-ramai demo ke DPRD. Dan sekarang, patok-patok itu sudah hilang," jelasnya mengenang.
Menurutnya, alasan masyarakat ketika itu sederhana saja. "Bahwa Pusuk Buhit itu bukan punya Kehutanan. Kami orang Batak wajib dan bertanggungawab untuk merawatnya," tutur Efendy Naibaho.
AKTIVIS BUDAYA SAYANGKAN NARASI PUSUK BUHIT MILIK KITA
Sebelumnya, akademisi dan aktivis budaya, Shohibul Anshor Siregar menantang narasi populer yang menyebut bahwa Pusuk Buhit adalah milik orang Batak.
Koordinator Umum komunitas Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya atau n'BASIS, bahkan menyerukan pembacaan ulang filosofi Pusuk Buhit dalam kebudayaan Batak.
"Sudah saatnya kita berhenti mengklaim bahwa Pusuk Buhit adalah milik kita. Sebaliknya, kita harus menyadari bahwa kitalah yang dimiliki oleh Pusuk Buhit," tegas Shohibul.
Pusuk Buhit, sebuah gunung bersejarah di Kabupaten Samosir, selama ini dianggap sebagai titik asal-usul orang Batak karena diyakini sebagai tempat turunnya Si Raja Batak.
Namun menurut Shohibul, cara pandang ini harus dibalik agar tidak terjebak pada logika kepemilikan modern yang mengobjektifikasi ruang sakral sebagai komoditas.
"Dalam mitologi Batak, tidak ada kisah Si Raja Batak menciptakan Pusuk Buhit. Justru ia turun di sana, menjadi bagian dari kehendak tempat itu. Artinya, Pusuk Buhit lebih dahulu ada, lebih suci, dan lebih tinggi secara kosmologis. Kita ini hanya tamu yang diterima oleh sang Gunung," jelasnya.
Shohibul menyayangkan narasi "Pusuk Buhit milik kita" telah membawa masyarakat kepada semangat eksklusif, bahkan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan politik identitas, pariwisata massal, dan komersialisasi yang merusak.
Ia mencontohkan bagaimana kawasan sekitar Pusuk Buhit saat ini mulai dirancang sebagai kawasan geopark dan wisata spiritual, tanpa melibatkan secara mendalam nilai-nilai asli dari warisan budaya Batak.
"Ketika tanah dianggap sebagai milik, maka ia bisa dijual, disewakan, atau diubah fungsinya sesuai logika pasar dan negara. Tapi ketika kita merasa dimiliki oleh tanah, oleh Pusuk Buhit, maka yang muncul adalah rasa hormat, tanggung jawab, dan pengabdian," tambahnya.
PENGELOLAAN TANPA MELIBATKAN MASYARAKAT ADAT
Ia juga menyoroti ketimpangan dalam pengelolaan kawasan sakral oleh negara dan korporasi, yang seringkali tidak melibatkan masyarakat adat secara substantif.
"Negara sering hadir hanya dengan logika hukum dan ekonomi. Sementara yang kita perlukan adalah kebijakan yang menghormati kosmologi dan spiritualitas rakyat," katanya.
Shohibul menutup pemaparannya dengan seruan moral agar masyarakat Batak kembali membangun hubungan dengan Pusuk Buhit bukan sebagai pemilik, melainkan sebagai anak spiritual yang menjaga, memelihara, dan menghormati tanah leluhur.
"Bukan kita yang memiliki Pusuk Buhit. Ia yang memiliki kita, membentuk kita, dan menguji kita. Kalau kita gagal menjaga kehormatannya, maka kita telah menolak akar kita sendiri," pungkas Shohibul.*
JAKARTA Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada awal perdagangan Rabu, 25 Maret 2026, meski penurunannya masih terbatas.I
EKONOMI
TABANAN Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Tabanan menyoroti maraknya pemberitaan yang dinilai tidak berimbang dan tidak men
NASIONAL
ACEH BARAT Pemerintah Kabupaten Aceh Barat tengah menyelidiki dugaan praktik pungutan liar (pungli) berupa kutipan daging yang terjadi d
PEMERINTAHAN
JAKARTA Bank Rakyat Indonesia (BRI) kembali menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada 2026 dengan bunga ringan sekitar 6 persen per tah
EKONOMI
JAKARTA Nama Hendrik Irawan menjadi sorotan publik setelah video dirinya yang menyebut penghasilan hingga Rp6 juta per hari dari program
NASIONAL
JAKARTA Seorang perempuan berinisial JSLP (20) diamankan aparat keamanan setelah diduga hendak melakukan percobaan bunuh diri di depan g
PERISTIWA
JAKARTA Apple dikabarkan tengah menyiapkan sedikitnya enam produk baru yang akan dirilis sepanjang 2026. Seluruh perangkat tersebut dise
SAINS DAN TEKNOLOGI
JAKARTA Perusahaan kecerdasan buatan Anthropic kembali memperkenalkan pembaruan teknologi pada asisten digital Claude AI. Melalui fitur
SAINS DAN TEKNOLOGI
SIMALUNGUN Warga di Huta II Nagori Marihat Bandar, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun, digegerkan dengan penemuan sesosok mayat laki
PERISTIWA
DELI SERDANG Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sebuah bus dan dua sepeda motor terjadi di Jalan Letjen Jamin Ginting KM 53, Desa Ba
PERISTIWA