Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
TAKENGON – Kopi Arabika Gayo asal Aceh masuk lima besar dalam daftar Best Coffee Beans Types in the World versi TasteAtlas 2026. Kopi yang tumbuh di kawasan dataran tinggi Gayo tersebut dikenal memiliki cita rasa khas, tingkat keasaman rendah, serta aroma herbal dan rempah.
Berdasarkan daftar TasteAtlas yang diperbarui pada 15 Oktober 2026, Kopi Arabika Gayo menempati posisi kelima dunia. Pemeringkatan tersebut disusun berdasarkan penilaian audiens TasteAtlas melalui sejumlah mekanisme penilaian.
Pencapaian ini turut memperkuat pengenalan kopi asal Aceh di pasar internasional. Lantas, apa saja keunggulan Kopi Gayo yang membuatnya dikenal di kalangan pencinta kopi?
Baca Juga:
1. Tumbuh di Dataran Tinggi Gayo
Kopi Gayo berasal dari kawasan dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh. Wilayah penghasil utamanya meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.
Kawasan tersebut memiliki kondisi geografis yang mendukung budidaya kopi Arabika, termasuk ketinggian lahan dan iklim yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kopi.
Karakter lingkungan tumbuh tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kualitas serta profil cita rasa biji kopi yang dihasilkan.
Kopi Gayo juga dikenal sebagai salah satu produk unggulan perkebunan Aceh yang dipasarkan ke berbagai negara.
2. Memiliki Cita Rasa Khas dengan Keasaman Rendah
Keunggulan lain Kopi Gayo terletak pada karakter rasanya. Kopi ini dikenal memiliki tingkat keasaman relatif rendah, tekstur atau body sedang hingga penuh, serta sensasi rasa yang bersih atau clean cup.
Profil rasanya dapat menghadirkan nuansa earthy atau menyerupai aroma tanah, herbal, hingga rempah-rempah. Karakter tersebut membuat Kopi Gayo memiliki ciri tersendiri dibandingkan dengan sejumlah kopi dari daerah lain.
Meski demikian, cita rasa akhir dapat berbeda bergantung pada varietas, kondisi kebun, proses pascapanen, tingkat sangrai, dan metode penyeduhan.
3. Pengolahan Biji dan Mutu Pascapanen Jadi Penentu
Kualitas Kopi Gayo tidak hanya dipengaruhi kondisi alam, tetapi juga proses pengolahan setelah panen.
Salah satu metode yang umum digunakan untuk kopi Arabika di Sumatera adalah giling basah atau wet-hulling. Dalam metode ini, kulit tanduk biji kopi dilepas ketika kadar air biji masih relatif tinggi sebelum proses pengeringan dilanjutkan.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.