BITVONLINE.COM -Di balik peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day setiap 1 Mei, tersimpan cerita perjuangan panjang yang sering terlupakan.
Salah satu sosok yang memberikan warna dalam gerakan buruh Indonesia adalah Thamrin Mosii.
Meskipun namanya tidak setenar tokoh politik lainnya, jejak langkah Thamrin dalam memperjuangkan hak-hak pekerja tak bisa dihapus dari sejarah perburuhan negeri ini.
Ia menjadi simbol perjuangan akar rumput, yang dari lantai pabrik hingga forum nasional, mampu menunjukkan bahwa suara buruh bisa menggema jika diperjuangkan dengan konsisten dan berani.
Awal Perjuangan dari Pabrik Elektronik
Thamrin Mosii memulai perjalanan panjangnya dalam dunia serikat pekerja pada 1987, saat bekerja di pabrik Panasonic.
Kondisi kerja buruh yang jauh dari layak, dengan upah yang sering tidak ditegakkan, jam kerja panjang, dan minimnya perlindungan hukum, membuat banyak pekerja rentan terhadap eksploitasi.
Thamrin tidak tinggal diam, ia mendirikan serikat pekerja di pabriknya dan terpilih menjadi ketua serikat buruh Panasonic.
Dari pabrik ini, perjuangannya semakin besar, dan Thamrin memprakarsai lahirnya Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), sebuah organisasi yang menjadi rumah bagi buruh di sektor industri logam, elektronik, otomotif, dan lainnya.
Bersama tokoh buruh lainnya, seperti Said Iqbal dan Jacob Ereste, Thamrin memperjuangkan hak-hak buruh di tingkat nasional.
Kontribusi dalam Gerakan Buruh Nasional
Thamrin juga menjabat di Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), memperjuangkan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih adil, termasuk revisi upah minimum, sistem jaminan sosial, dan kebebasan berserikat.
Thamrin dikenal sebagai tokoh buruh yang tak kenal takut, berani memperjuangkan hak-hak buruh meski dihadapkan pada tekanan besar dari pengusaha dan pemerintah.
Menurut IndustriALL Global Union, Thamrin memainkan peran penting dalam membangun jaringan gerakan buruh Indonesia, baik di lingkup nasional maupun internasional.
Ia selalu mendorong pentingnya solidaritas lintas sektor, pendidikan buruh, dan advokasi berbasis hukum.
Warisan Perjuangan
Thamrin Mosii wafat pada 19 Agustus 2012, meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekannya di FSPMI dan KSPI.
Namun, semangat perjuangannya tetap hidup dalam gerakan buruh Indonesia.
Di era modern ini, tantangan buruh semakin kompleks dengan hadirnya digitalisasi dan otomatisasi yang sering kali justru menyulitkan pekerja.
Namun, semangat Thamrin tetap relevan dan menjadi teladan bahwa perjuangan buruh tidak boleh berhenti.
Generasi muda pekerja perlu belajar dari sosok seperti Thamrin Mosii, yang tidak puas dengan kondisi yang ada, berani bersuara, dan siap berorganisasi demi masa depan yang lebih adil.*
(bs/a008)
Editor
: Adelia Syafitri
Thamrin Mosii: Pejuang Hak Buruh yang Menginspirasi Gerakan Perburuhan Indonesia