BREAKING NEWS
Kamis, 09 Juli 2026

Kisah Syahrial Abadi, Rela Jual Tanah Demi Perbaiki Jalan dan Jembatan Enang-Enang

Abyadi Siregar - Kamis, 09 Juli 2026 15:07 WIB
Kisah Syahrial Abadi, Rela Jual Tanah Demi Perbaiki Jalan dan Jembatan Enang-Enang
Bapak Syahrial Abadi, menerima Piagam Penghargaan dari Kapolres Bener Meriah. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BENER MERIAH – Upaya warga memperbaiki akses Jalan dan Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, berawal dari tekad seorang tokoh masyarakat, Syahrial Abadi.

Di tengah keterbatasan biaya, ia mengaku menjual sebidang tanah miliknya untuk memulai pekerjaan yang kemudian mendapat dukungan luas dari masyarakat.

Jalan nasional yang menghubungkan Bireuen dan Aceh Tengah itu sebelumnya terputus akibat longsor pada akhir November 2025.

Baca Juga:

Longsoran menimbun badan jalan, sementara pondasi Jembatan Enang-Enang mengalami kemiringan hingga menyebabkan jembatan jatuh ke aliran sungai.

Melihat kondisi tersebut, Syahrial bersama sejumlah warga menyewa alat berat untuk membersihkan material longsor.

Mereka kemudian membuka jalur baru agar kendaraan tetap dapat melintas meski dengan kondisi jalan darurat.

Beberapa hari setelah pekerjaan dimulai, akses tersebut sudah bisa digunakan masyarakat. Dukungan pun mulai berdatangan.

Syahrial mengatakan, sekitar 10 hari setelah proses perbaikan berlangsung, masyarakat dari berbagai daerah mulai mengirimkan bantuan.

Dana yang terkumpul digunakan untuk mengaspal jalan baru, memperkuat tebing, hingga memperbaiki fasilitas pendukung di sekitar lokasi.

"Sampai kemarin kita menerima donasi Rp 1 miliar lebih. Ini masih ada saldo berjalan Rp 555 juta dan itu masih ada pekerjaan-pekerjaan yang belum saya bayar," kata Syahrial kepada wartawan, Kamis (9/7/2026).

Selain mengaspal jalan, warga juga membangun dinding penahan longsor di tikungan Enang-Enang, membuat beton pengaman di sisi jalan, serta mendirikan tempat berteduh bagi pengguna jalan.

Saat ini alat berat masih bekerja untuk memperbaiki aliran sungai di sekitar jembatan.

Menurut Syahrial, perbaikan itu dilakukan karena akses alternatif yang disiapkan pemerintah dinilai belum memadai.

Warga Desa Arul Cincin dan Menderek harus memutar hingga sekitar satu jam untuk mencapai Bireuen maupun Aceh Tengah.

"Kalau mau bawa orang sakit, ibu hamil, anak sekolah itu sangat sulit sekali karena jalan alternatif berlubang, dan sempit," jelas Syahrial.

Ia juga menilai terputusnya jalan berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.

Aktivitas berkebun terganggu, biaya transportasi meningkat, dan mobilitas warga menjadi lebih sulit.

"Seharusnya dia dengan minyak setengah liter sampai, harus membeli 3 liter. Maka ini menambah angka kemiskinan menurut saya, sehingga saya terdorong untuk melakukan ini," jelas Syahrial.

Syahrial mengaku sempat tidak memiliki dana untuk memulai pekerjaan tersebut.

Demi membuka kembali akses bagi masyarakat, ia memilih menjual sebagian tanah miliknya dan meminjam uang.

"Walau saat itu saya enggak ada uang, enggak ada uang sama sekali. Waktu itu saya nangis terus ya, enggak ada uang saya. Saya jual kebun saya sedikit untuk memperbaiki Enang-Enang ini, habis itu saya pinjam uang orang," ujar Syahrial.

Setelah jalan kembali dibuka secara swadaya, lokasi tersebut mendapat perhatian pemerintah pusat.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo meninjau langsung kondisi Jembatan Enang-Enang pada waktu yang berbeda.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pemerintah akan memperkuat struktur bagian bawah jembatan dengan pemasangan tiang penyangga sementara sebelum dilakukan perbaikan permanen.

"Sekarang ini masih sistem sementara. Di bawah itu ada kayak kekuatan tiang-tiang gitu, tapi itu sifatnya sementara. Nanti PT PP akan mengerjakan itu lebih bagus lagi," kata Dody saat meninjau Jembatan Enang-Enang, Rabu (8/7).

Untuk sementara, pemerintah membatasi kendaraan yang boleh melintas.

Jembatan hanya dapat digunakan oleh kendaraan roda dua dan mobil penumpang, sedangkan kendaraan barang belum diizinkan melintas demi alasan keselamatan.

Menurut Dody, pemerintah akan terus mendukung upaya yang telah dilakukan masyarakat agar hasil gotong royong tersebut dapat dimanfaatkan dengan aman sambil menunggu pembangunan permanen yang direncanakan dimulai pada 2027.* (d/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Berbelit-belit Saat Bersaksi, Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid Dituntut 8,5 Tahun Penjara
Tak Kapok Dipenjara, Residivis Pembobol Rumah di Banda Aceh Ditangkap, 6 HP dan BPKB Disita Polisi
300 Rumah Baru untuk Korban Banjir Aceh Tamiang, Huntap Presisi Siap Diresmikan Kapolri
Rawan Longsor, Pemerintah Siapkan 3 Jalur Baru di Enang-Enang, Jembatan Shortcut Jadi Andalan
Cuaca Aceh Kamis 9 Juli Didominasi Berawan, Aceh Timur Diprakirakan Udara Kabur
Kasatgas PRR Minta Papan Informasi Dipasang di Lokasi Proyek, Dorong Transparansi Penanganan Infrastruktur Pascabencana
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru