Hadis itu diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban.
Suatu ketika Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, "Maukah kalian aku tunjukkan orang yang haram baginya tersentuh api neraka?"
Para sahabat menjawab, "Mau, wahai Rasulullah."
Nabi kemudian bersabda, "(Yaitu) orang yang hayyin, layyin, qarib, dan sahl."
Dalam penjelasan yang dikutip dari buku 100 Fakta Menakjubkan Nabi, Rasul, dan Dunia Islam karya Muhammad Khalil, hayyin dimaknai sebagai pribadi yang tenang, lembut lahir dan batin, tidak mudah marah, serta penuh pertimbangan.
Sementara layyin adalah orang yang santun dalam tutur kata dan perbuatan, tidak memaksakan kehendak, serta menginginkan kebaikan bagi sesama.
Adapun qarib merujuk pada sosok yang menyenangkan saat diajak berbicara, murah senyum, dan rendah hati.
Sedangkan sahl adalah orang yang memudahkan urusan orang lain, tidak mempersulit, dan mampu memberi solusi atas persoalan yang dihadapi.
Keempat sifat tersebut, menurut hadis Nabi, menjadi ciri manusia yang tubuhnya tidak disentuh api neraka. Allah SWT mengharamkan neraka bagi mereka.
Selain itu, dalam hadis lain Rasulullah SAW juga menyebut tiga golongan yang tidak akan disentuh api neraka.
Hadis yang diriwayatkan oleh Hakim dan Baihaqi itu menyebutkan, "Tiga pasang mata tidak akan disentuh api neraka: mata yang menunduk dari apa yang diharamkan Allah, mata yang terjaga di jalan Allah, dan mata yang menangis karena takut kepada Allah."
Hadis-hadis tersebut sejalan dengan peringatan Al-Qur'an tentang dahsyatnya siksaneraka.
Dalam QS At-Tahrim ayat 6, Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.
Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut dimaknai sebagai perintah untuk menaati Allah, menjauhi kemaksiatan, serta mendidik keluarga dalam ketakwaan.
Mujahid menegaskan, menjaga diri dari api neraka berarti bertakwa kepada Allah dan mengajak keluarga untuk melakukan hal yang sama.
Para ulama salaf bahkan digambarkan memiliki rasa takut mendalam terhadap neraka.
Dalam kitab At-Takhwif min An-Naar karya Ibnu Rajab al-Hanbali disebutkan, sebagian mereka enggan tertawa karena selalu mengingat siksaakhirat dan belum mengetahui di mana tempat kembali mereka kelak, surga atau neraka.*