MEDAN - Menjelang liburTahun Baru 2026, nilai tukar rupiah tercatat menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 29 Desember 2025.
Rupiah dibuka di level Rp16.740 per dolar AS, naik 0,06 persen dibanding penutupan Jumat, 26 Desember, yang berada di posisi Rp16.745 per dolar AS.
Pergerakan rupiah pada awal perdagangan cenderung stabil, meski analis memperingatkan adanya tekanan di tengah prospek kebijakan pelonggaran fiskal pemerintah dan Bank Indonesia (BI).
"Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS, terbebani prospek kebijakan pelonggaran pemerintah dan BI," ujar analis Doo Financial Futures, Lukman Leong.
Ia menambahkan, volatilitas rupiah diperkirakan meningkat seiring kondisi perdagangan yang sepi di akhir tahun.
Selain faktor domestik, geopolitik global turut memengaruhi rupiah. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut, ketegangan antara AS dan Venezuela ikut mengguncang stabilitas pasar keuangan internasional.
"Tindakan Washington terhadap pengiriman minyak Venezuela dan respons Caracas menimbulkan kekhawatiran mengenai stabilitas regional dan risiko pasokan global," kata Ibrahim.
Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS juga memberi tekanan pada rupiah.
Pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada 2026, meski data ekonomi AS menunjukkan kinerja lebih kuat dari perkiraan, termasuk pertumbuhan ekonomi tahunan 4,3 persen pada kuartal ketiga.
Berdasarkan proyeksi, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif di rentang Rp16.760 – Rp16.790 per dolar AS, sementara Lukman memproyeksikan pergerakan dalam kisaran Rp16.700 – Rp16.800 per dolar AS pada perdagangan Senin, 29 Desember.
Pergerakan rupiah yang cenderung stabil namun rawan volatilitas ini menjadi perhatian bagi eksportir, importir, dan pelaku pasar menjelang akhir tahun.*