Menteri Ketenagakerjaan Yassierli saat meninjau Balai Besar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (BBK3) Jakarta, Selasa (14/4/2026). (foto: Biro Humas Kemnaker)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
JAKARTA – Menteri KetenagakerjaanYassierli merespons hasil survei Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) yang menyebut sebagian besar perusahaan di Indonesia belum berencana melakukan perekrutan tenaga kerja baru dalam waktu dekat.
Yassierli mengatakan pemerintah memahami kekhawatiran pelaku usaha di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian.
Menurut dia, situasi tersebut turut memengaruhi keputusan perusahaan dalam memperluas usaha maupun menambah tenaga kerja.
"Artinya kita sadar bahwa kondisi dunia saat ini, tidak hanya Indonesia, memang penuh ketidakpastian. Tentu pemerintah harus menyikapi ini dengan melihat bersama-sama," ujar Yassierli di Gedung Vokasi Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Rabu, 15 April 2026.
Ia menyoroti kondisi industri manufaktur yang dinilai terus melemah dalam menyerap tenaga kerja.
Menurut APINDO, kontribusi sektor manufaktur kini hanya berada di kisaran 18–19 persen, turun dari kondisi sebelumnya yang lebih dominan sebagai penyerap tenaga kerja utama.
"Buruh tidak sejahtera, pengusahanya terjepit, dan investor di sektor manufaktur malah meninggalkan Indonesia terutama di padat karya," kata Bob.
Menanggapi kondisi tersebut, Yassierli menegaskan pemerintah tidak tinggal diam.
Ia menyebut penanganan isu ketenagakerjaan dilakukan secara lintas kementerian, tidak hanya oleh Kementerian Ketenagakerjaan.
Salah satu strategi yang ditempuh pemerintah adalah memperkuat ketahanan pangan dan energi sebagai fondasi menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
"Kami di Kementerian Ketenagakerjaan diminta fokus pada penyiapan SDM, khususnya dalam konteks skill vokasi," ujarnya.
Yassierli juga menekankan pentingnya peningkatan keterampilan tenaga kerja melalui program pelatihan vokasi dan penguatan keterampilan digital.
Program magang disebut menjadi salah satu instrumen untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan industri dan kompetensi lulusan.
"Kami harapkan program magang ini bisa menjadi solusi untuk link and match antara tuntutan kerja dan kebutuhan industri," kata dia.*
(tb/ad)
Editor
: Nurul
APINDO Ungkap 67 Persen Perusahaan Tak Mau Rekrut Karyawan Baru, Menaker Buka Suara