Penguatan ini terjadi di tengah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, setelah Iran disebut kembali membuka jalur negosiasi dengan Amerika Serikat.
Di sisi lain, indeks dolar AS melemah tipis 0,02 persen ke posisi 98,07. Tekanan juga datang dari pasar energi, di mana harga minyak mentah ikut turun.
Minyak WTI terkoreksi 1,92 persen ke US$87,89 per barel, sementara Brent turun 1,05 persen ke US$94,48 per barel, meski masih jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia cenderung beragam.
Selain rupiah, sejumlah mata uang mencatat penguatan terbatas seperti dolar Taiwan, ringgit Malaysia, baht Thailand, won Korea Selatan, yuan China, serta peso Filipina.
Sementara yen Jepang, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong melemah tipis.
Penguatan rupiah juga terjadi di tengah tekanan dari pasar domestik.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 0,45 persen ke level 7.560 dan sempat terkoreksi lebih dalam ke 7.544.
Sentimen negatif antara lain dipicu keputusan MSCI yang kembali menunda rebalancing indeks saham Indonesia.