Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi bertahan selama periode H-3 hingga H+2 Iduladha apabila distribusi dan pasokan bahan pokok tidak meningkat secara signifikan.
"Harga yang tinggi akan terus berlangsung jika pada fase H-3 hingga H+2 Iduladha tidak ada pasokan yang melimpah dari setiap bahan pokok," ujar Reynaldi.
Ia memperkirakan harga sejumlah komoditaspangan akan mulai mengalami penurunan setelah masa libur panjang Iduladha berakhir.
"Kemungkinan harga mulai melandai pada pekan depan atau awal Juni 2026 seiring normalnya aktivitas distribusi dan berkurangnya lonjakan permintaan," katanya.
Lonjakan harga cabai kembali menjadi perhatian karena berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasipangan nasional.
Komoditas ini selama beberapa tahun terakhir kerap menjadi penyumbang utama inflasi, terutama saat momentum hari besar keagamaan.
Pemerintah sebelumnya telah menginstruksikan berbagai langkah stabilisasi harga pangan menjelang Iduladha, mulai dari penguatan distribusi hingga operasi pasar di sejumlah daerah.
Namun tingginya permintaan masyarakat selama musim libur dan perayaan keagamaan masih menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.*