Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar diskusi publik di Aula Suratman Fakultas Pertanian USU, Selasa, 26 Mei 2026. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
MEDAN – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar diskusi publik bertajuk "Impor Ilegal Bawang Merah: Swasembada antara Utopia atau Realita?" di Aula Suratman Fakultas Pertanian USU, Selasa, 26 Mei 2026.
Diskusi menghadirkan perwakilan Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Sumut, akademisi Fakultas Pertanian USU, serta petani bawang dari Kabupaten Karo dan sejumlah daerah sentra produksi.
Salah satu petani bawang asal Karo, Rosina, mengungkapkan kerugian yang dialami petani akibat penurunan hasil panen dan memburuknya kualitas produksi.
Ia menyebut sebagian hasil panen mengalami kerusakan hingga ratusan kilogram.
"Modal bibit bawang 300 kg, kita panen lima sampai enam ton. Namun kemarin hanya 2,3 ton, dan ada sekitar 400 kg bawang yang rusak karena panen belum waktunya," kata Rosina dalam diskusi.
Ia juga menyoroti anjloknya harga jual di tingkat petani yang menurutnya dipengaruhi oleh keberadaan bawang di pasar yang diduga berasal dari jalur ilegal.
Selain itu, ia menyebut adanya serangan hama yang tidak biasa serta menurunnya minat petani untuk kembali menanam.
"Sekitar 80 persen semangat petani untuk menanam bawang sudah hilang," ujarnya.
Petani lainnya, Alestani Karo, menegaskan bahwa kualitas bawang merah lokal Sumatera Utara sebenarnya mampu bersaing dengan daerah lain, termasuk Pulau Jawa.
Namun, ia menilai harga jual yang tidak stabil menjadi persoalan utama.
"Produksi kita bagus, tapi kenapa daya beli turun. Ini yang jadi masalah di lapangan," katanya.