BREAKING NEWS
Kamis, 09 Juli 2026

Rupiah Punya Peluang Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Ini Faktor Pendorongnya

Dharma - Kamis, 09 Juli 2026 17:08 WIB
Rupiah Punya Peluang Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Ini Faktor Pendorongnya
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih memiliki peluang menguat hingga berada di bawah level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir 2026.

Meski demikian, pada penutupan perdagangan pasar spot, Kamis (9/7/2026), rupiah justru kembali melemah.

Rupiah ditutup di posisi Rp18.128 per dolar AS, atau melemah 114 poin (0,63 persen) dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Baca Juga:

Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia, Freddy Tedja, memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi menguat hingga berada di kisaran Rp17.500 per dolar AS pada akhir tahun, apabila sejumlah faktor pendukung bergerak sesuai harapan.

"Jika semuanya menunjukkan hasil positif," kata Freddy.

Menurutnya, pergerakan rupiah sepanjang Juni 2026 relatif lebih stabil.

Kondisi tersebut didukung oleh kebijakan Bank Indonesia (BI) yang berfokus menjaga stabilitas nilai tukar, serta perubahan arah kebijakan pemerintah.

Selain itu, tekanan musiman seperti pembayaran dividen perusahaan dan kebutuhan valuta asing selama musim haji mulai mereda sehingga memberikan ruang bagi penguatan rupiah.

Namun demikian, Freddy mengingatkan bahwa stabilitas rupiah masih dipengaruhi berbagai faktor eksternal dan domestik.

"Pasar akan terus memantau perkembangan global, termasuk geopolitik dan arah suku bunga The Fed," ujarnya.

Selain faktor global, investor juga mencermati sejumlah agenda di dalam negeri, termasuk evaluasi peringkat utang Indonesia oleh S&P Global Ratings pada Juli hingga Agustus 2026 serta konsistensi kebijakan ekonomi pemerintah.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini cenderung bervariasi dengan kecenderungan menguat.

Yuan China menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah naik 0,15 persen.

Sementara itu, yen Jepang dan baht Thailand masing-masing menguat 0,14 persen.

Rupee India naik 0,11 persen, sedangkan dolar Singapura menguat 0,05 persen.

Adapun dolar Hong Kong tercatat menguat tipis sekitar 0,005 persen terhadap dolar AS.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai percepatan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada semester pertama 2026 turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah.

Menurut Ibrahim, percepatan realisasi belanja pemerintah memberikan respons tersendiri dari pelaku pasar.

"Pelaksanaan APBN yang lebih cepat pada semester pertama tahun 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar," ujar Ibrahim.

Meski demikian, pemerintah tetap menempatkan APBN 2026 sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendukung delapan agenda prioritas pembangunan.

Ke depan, arah pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi kombinasi faktor global, seperti kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), kondisi geopolitik, hingga perkembangan ekonomi domestik dan kebijakan fiskal pemerintah.* (km/ad)

Editor
: Johan
0 komentar
Tags
beritaTerkait
B50 Resmi Diluncurkan, Apa Dampaknya bagi Harga Sawit dan Petani?
Dituntut 8,5 Tahun Penjara, Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid Siapkan Pleidoi
Prabowo Resah Indonesia Belum Lolos ke Piala Dunia: Jangan Anggap Enteng, Mana Erick Thohir?
Prabowo Resmikan Biosolar B50, Indonesia Jadi Negara Pertama di Dunia Terapkan Mandatori Biodiesel 50 Persen
Pemprov Sumut Alokasikan Rp64,2 Miliar untuk Perbaikan Jalan di Langkat, Jembatan Baru Juga Dibangun
Rico Waas Dorong Restoran dan Kafe di Medan Gunakan QRESTO, Sistem Pajak Digital yang Lebih Transparan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru