BREAKING NEWS
Rabu, 29 Juli 2026

Rupiah Akhirnya Menguat ke Rp18.073 per Dolar AS Usai Tertekan Empat Hari, Ini Pemicunya

Dharma - Rabu, 29 Juli 2026 17:22 WIB
Rupiah Akhirnya Menguat ke Rp18.073 per Dolar AS Usai Tertekan Empat Hari, Ini Pemicunya
ilustrasi - Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri tren pelemahan setelah empat hari berturut-turut tertekan. Pada penutupan perdagangan Rabu (29/7/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri tren pelemahan setelah empat hari berturut-turut tertekan. Pada penutupan perdagangan Rabu (29/7/2026), mata uang Garuda ditutup menguat 10 poin atau 0,06 persen ke level Rp18.073 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, penguatan rupiah terjadi seiring pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (DXY). Hingga pukul 15.00 WIB, indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia itu turun 0,12 persen ke posisi 101,291.

Meski berhasil menguat, sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dipo Satria Ramli, menyebut faktor domestik masih menjadi penyebab utama pelemahan nilai tukar rupiah dibandingkan faktor global.

Baca Juga:

Menurutnya, pengaruh sentimen global terhadap pergerakan rupiah hanya berkisar 30 hingga 40 persen. Sementara sekitar 60 hingga 70 persen tekanan berasal dari faktor-faktor dalam negeri.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut terlihat dari performa rupiah yang masih tertinggal dibandingkan mata uang negara-negara Asia lainnya. Saat ringgit Malaysia, baht Thailand, dan peso Filipina mulai menguat, rupiah justru masih mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Selain itu, Dipo menyoroti kenaikan Credit Default Swap (CDS) Indonesia yang mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap aset keuangan domestik. Semakin tinggi nilai CDS, semakin besar kekhawatiran investor terhadap kemampuan suatu negara dalam memenuhi kewajiban utangnya.

Menurutnya, meningkatnya CDS Indonesia tidak sepenuhnya dipicu kondisi ekonomi, melainkan juga dipengaruhi persepsi pasar terhadap arah kebijakan pemerintah yang dinilai masih berubah-ubah dan sulit diprediksi.

Di sisi lain, kinerja neraca perdagangan Indonesia juga menjadi perhatian. Setelah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 sebesar 1,61 miliar dolar AS. Defisit terjadi karena nilai impor mencapai 24,81 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan ekspor yang sebesar 23,20 miliar dolar AS.

Meski demikian, Dipo menegaskan kondisi tersebut belum mengarah pada krisis ekonomi. Menurutnya, defisit neraca perdagangan lebih tepat dipandang sebagai sinyal awal yang perlu diwaspadai agar pemerintah dapat memperkuat kembali fundamental ekonomi nasional.

Pelaku pasar kini masih menantikan berbagai kebijakan lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia yang diharapkan mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global.* (k/dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Rupiah Tersungkur ke Rp18.109, Ini Penyebab Mata Uang Garuda Tertekan
Rupiah Turun ke Rp18.083 per Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan Penting The Fed
Jembatan Perintis Garuda Diresmikan, Akses Tiga Kecamatan di Medan Kembali Terhubung Setelah Sempat Terputus
Tak Lagi Jalan Lewat Pipa PDAM, Kini Warga Medan Punya Jembatan Baru Penghubung Tiga Kecamatan
Rupiah Kembali Melemah, Tembus Rp18.068 per Dolar AS di Awal Perdagangan
Debut Sensasional! Mitchell Baker Cetak Hattrick, Timnas Indonesia Hajar Kamboja 5-1
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru