BREAKING NEWS
Jumat, 14 Agustus 2026

Ketegangan Selat Hormuz Berlanjut, Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.877 Jelang Data Inflasi AS

Administrator - Rabu, 12 Agustus 2026 16:35 WIB
Ketegangan Selat Hormuz Berlanjut, Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.877 Jelang Data Inflasi AS
ilustrasi - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (12/8/2026). (Foto: MI/Usman Iskandar)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (12/8/2026). Rupiah turun 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp17.877 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah masih dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal dan domestik. Salah satunya ketegangan antara AS dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih terbatas karena belum terdapat perkembangan signifikan menuju kesepakatan antara kedua negara. Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi pasokan minyak dunia.

Baca Juga:

"Teheran sebelumnya mengisyaratkan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup kecuali Washington memenuhi tuntutan ganti rugi mereka, tuntutan yang ditolak keras oleh Presiden AS Donald Trump," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Selain Selat Hormuz, pasar juga mencermati perkembangan keamanan di kawasan Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Kelompok Houthi dilaporkan kembali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut.

Situasi geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda membuat pelaku pasar tetap mewaspadai potensi gangguan terhadap pasokan minyak global. Kondisi itu turut menjadi sentimen yang memengaruhi pergerakan mata uang.

Pasar Tunggu Data Inflasi AS

Dari Amerika Serikat, investor juga menanti rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI). Data tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar untuk membaca arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Angka inflasi yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi mengurangi tekanan bagi The Fed untuk memperketat kebijakan moneter. Sebaliknya, angka yang lebih tinggi dapat kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga.

Pelaku pasar cenderung menahan diri mengambil posisi agresif menjelang rilis data tersebut. Pasar swap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September berada di kisaran 50:50.

Sentimen dari Dalam Negeri

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari kondisi konsumsi masyarakat. Penjualan ritel Indonesia tercatat turun 3 persen secara tahunan pada Juni 2026.

Meski demikian, penurunan tersebut lebih kecil dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,9 persen. Pelemahan penjualan ritel menunjukkan masih adanya tekanan terhadap daya beli masyarakat, terutama untuk barang-barang non-esensial.

Selain itu, pasar turut mencermati posisi utang pemerintah pusat. Hingga 30 Juni 2026, utang pemerintah tercatat mencapai Rp10.293,69 triliun.

Jumlah tersebut setara dengan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 41,26 persen. Utang pemerintah terdiri atas penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp8.966,79 triliun dan pinjaman Rp1.326,90 triliun.

Investor Tunggu Hasil Review MSCI

Sentimen lain yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah hasil August 2026 Index Review dari MSCI yang akan diumumkan pada Kamis dini hari waktu Indonesia.

Berdasarkan jadwal, hasil review akan dipublikasikan sekitar pukul 04.00 WIB pada 13 Agustus 2026. Sementara perubahan indeks akan diterapkan setelah penutupan perdagangan 31 Agustus dan efektif mulai 1 September 2026.

Investor perlu membedakan waktu pengumuman hasil review dengan waktu implementasi perubahan indeks. Reaksi pasar dapat muncul segera setelah pengumuman, sementara penyesuaian dana berbasis indeks biasanya lebih terasa menjelang tanggal implementasi.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya.

Rupiah diproyeksikan berpotensi menguat dan bergerak dalam rentang Rp17.870-Rp17.940 per dolar AS.* (oz/dh)

Editor
: Administrator
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Selat Hormuz Memanas, Rupiah Tertekan di Rp17.860 per Dolar AS
Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Bikin Rupiah Melemah ke Rp17.861
Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.797, Jadi Salah Satu Mata Uang Asia yang Tertekan
Destry Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Rupiah Diprediksi Makin Menguat
Rupiah Menguat ke Rp17.755, Sentimen BI hingga Data Inflasi AS Jadi Sorotan
Rupiah Menguat 0,26 Persen ke Rp17.844 per Dolar AS di Awal Pekan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru