BREAKING NEWS
Jumat, 23 Oktober 2026

Diancam Penurunan Status Pasar Modal, Prabowo Semprot MSCI: Jangan Coba Takut-takuti Kita

Nurul - Rabu, 21 Oktober 2026 19:33 WIB
Diancam Penurunan Status Pasar Modal, Prabowo Semprot MSCI: Jangan Coba Takut-takuti Kita
Presiden Prabowo Subianto, saat membuka Sidang Kabinet Paripurna dalam rangka evaluasi dua tahun pemerintahannya bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026). (Foto: Tangkapan Layar Sekretariat Presiden
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia tidak akan gentar menghadapi tekanan dari pihak luar, termasuk lembaga penyedia indeks saham global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pernyataan itu disampaikan menyusul munculnya potensi penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Prabowo menyampaikan sikap tersebut saat membuka Sidang Kabinet Paripurna dalam rangka evaluasi dua tahun pemerintahannya bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Dalam arahannya, Prabowo mengakui pemerintah masih menghadapi berbagai tantangan besar, baik dari dalam negeri maupun perkembangan ekonomi global.

Baca Juga:

Menurutnya, meskipun sejumlah program pemerintah telah berjalan, masih banyak persoalan yang harus diselesaikan untuk memenuhi harapan masyarakat.

"Saudara-saudara, kita telah bekerja dengan baik tapi kita tahu tantangan masih besar, rakyat kita berharap, kesulitan kita masih banyak, gangguan masih banyak kita terus diadang," kata Prabowo.

Prabowo kemudian menyinggung MSCI yang tengah mempertimbangkan penurunan status pasar modal Indonesia. Ia menilai langkah tersebut sebagai bentuk tekanan terhadap Indonesia.

"Ada apa itu, macem-macem lah, ada MSCI macem-macem, dia mau takut-takutin kita," ujarnya.

Prabowo menegaskan Indonesia tidak akan menyerah dalam menghadapi berbagai tekanan maupun tantangan yang datang dari luar.

"Saya hanya katakan pada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut siapa pun dan tidak akan gentar," tegasnya.

Presiden mengatakan Indonesia memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghadapi situasi sulit. Ia meminta jajaran pemerintah tetap bekerja dan tidak kehilangan semangat dalam menjalankan program pembangunan.

"Kita tidak takut kita punya kekuatan keberanian, kita punya keberanian dan kita rela berkorban dan kita tidak mengenal menyerah saudara-saudara sekalian," katanya.

Pernyataan Prabowo tersebut muncul setelah MSCI menyampaikan kekhawatiran terhadap sejumlah aspek tata kelola pasar saham Indonesia.

Lembaga penyedia indeks global itu mempertimbangkan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market atau pasar berkembang menjadi standalone market atau pasar mandiri.

Potensi perubahan klasifikasi tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena indeks MSCI digunakan oleh banyak investor internasional sebagai acuan dalam menempatkan dana di pasar saham berbagai negara.

Apabila penurunan klasifikasi benar-benar dilakukan, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aliran investasi asing ke pasar modal Indonesia.

Namun, perubahan status itu masih dalam tahap pertimbangan dan belum menjadi keputusan final MSCI.

Sebelumnya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengadakan pertemuan secara virtual dengan MSCI pada Senin (19/10/2026).

Pertemuan tersebut membahas sejumlah persoalan berkaitan dengan pasar modal Indonesia dan rencana peninjauan klasifikasi oleh lembaga indeks global tersebut.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan terdapat berbagai hal yang dibicarakan bersama MSCI. Namun, berdasarkan kesepakatan kedua pihak, hasil pembahasan belum dapat disampaikan secara terperinci kepada publik.

"Kami membicarakan banyak hal. Namun, seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan MSCI, kami tidak dapat mengungkapkan detail maupun kesimpulan dari pertemuan tersebut," kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Meski demikian, BEI mengumumkan dua langkah baru sebagai bagian dari upaya memperkuat integritas dan transparansi pasar modal Indonesia.

Langkah pertama berkaitan dengan penghapusan saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham tinggi dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperbaiki kualitas indeks serta merespons kekhawatiran mengenai struktur kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi.

Langkah kedua berupa peningkatan transparansi kepemilikan saham melalui pengungkapan data pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen.

Pengungkapan tersebut juga akan dilengkapi informasi mengenai afiliasi pemegang saham dengan perusahaan tercatat atau emiten terkait.

Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari upaya BEI memperkuat keterbukaan informasi dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal nasional.

Persoalan transparansi kepemilikan saham, praktik perdagangan, serta kualitas tata kelola menjadi perhatian MSCI dalam menilai kelayakan pasar Indonesia.

Di tengah situasi tersebut, Prabowo menegaskan pemerintah akan tetap berupaya menjaga ketahanan nasional dan melanjutkan agenda pembangunan.

Pemerintah juga menghadapi tantangan untuk mempertahankan kepercayaan investor sekaligus memastikan pasar modal Indonesia memiliki tata kelola yang transparan, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan.* (in/dh)

Editor
: Administrator
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Diancam MSCI dan Disorot 3 Media Asing, IHSG Nyungsep ke Level Terendah 6 Tahun
Jawab Sorotan MSCI, BEI Tendang Saham HSC dari IHSG dan Buka Data Pemilik di Atas 1%
IHSG Ditutup 4.996, Turun 3,64%, Semua Sektor Merah di Tengah Sorotan MSCI
Rupiah Melemah ke Rp18.053 per Dolar AS, Pasar Keuangan Indonesia Tertekan
IHSG Dibuka Ambruk ke Level 4.950! Ratusan Saham Berguguran, Sentimen MSCI Tekan Pasar Indonesia
IHSG Anjlok Usai Pengumuman MSCI, Ketua Banggar DPR Pertanyakan Perlakuan terhadap BEI: Pantaskah?
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru