Intelijen Eropa menyebut sejak awal Maret 2026 Kremlin menunjukkan peningkatan kekhawatiran terhadap kebocoran informasi sensitif serta potensi ancaman internal terhadap Putin.
"Risiko rencana atau upaya kudeta yang menargetkan presiden Rusia," demikian isi laporan tersebut.
Laporan itu juga menyebut Putin meningkatkan kewaspadaan terhadap penggunaan drone yang dinilai berpotensi digunakan dalam upaya pembunuhan, termasuk oleh kelompok elite politik Rusia.
Selain itu, nama mantan Menteri Pertahanan Rusia yang kini menjabat Sekretaris Dewan Keamanan, Sergei Shoigu, turut disorot.
Ia disebut masih memiliki pengaruh kuat di lingkaran militer Rusia dan dikaitkan dengan potensi ketegangan internal.
"Shoigu dikaitkan dengan risiko kudeta karena pengaruhnya yang signifikan di komando tinggi militer," tulis laporan tersebut.
Ketegangan internal di Kremlin disebut meningkat sejak insiden pada Juni 2023, ketika kelompok tentara bayaran Wagner yang dipimpin Yevgeny Prigozhin melakukan pemberontakan bersenjata menuju Moskow.
Laporan intelijen itu juga menggambarkan langkah-langkah pengamanan ketat terhadap Putin, termasuk pemeriksaan berlapis terhadap tamu, pembatasan penggunaan telepon pintar, serta pengurangan mobilitas presiden.
Sejumlah staf dekat Putin seperti juru masak, pengawal, hingga fotografer dilaporkan dilarang menggunakan transportasi umum.
Mereka juga hanya diperbolehkan menggunakan perangkat komunikasi tanpa akses internet.
Kremlin disebut semakin membatasi lokasi kunjungan Putin, termasuk menghentikan kunjungan ke sejumlah kediaman di sekitar Moskow dan wilayah Valdai.
Putin juga dilaporkan tidak mengunjungi fasilitas militer sepanjang tahun ini.
Untuk menjaga citra publik, Kremlin disebut kerap merilis rekaman kegiatan yang telah disiapkan sebelumnya.
Laporan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan internal dan eksternal terhadap Rusia, termasuk perang yang masih berlangsung di Ukraina, perlambatan ekonomi, serta indikasi meningkatnya perbedaan pendapat di dalam negeri.*