Kisah Pilu Bayi Pejaten: Kakak 12 Tahun Memikul Berat Kehidupan
JAKARTA Sebuah kisah pilu menimpa kawasan Pejaten Raya, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Seorang bayi perempuan berusia dua hari
NASIONAL
JAKARTA – Berbincang dengan chatbot berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) seperti ChatGPT kini menjadi fenomena yang populer, khususnya di kalangan generasi muda.
Banyak yang menjadikan AI sebagai teman bercerita hingga tempat mencurahkan perasaan.
Namun, apakah kebiasaan ini sehat secara psikologis?
Psikolog klinis Ghina Sakinah Safari menjelaskan bahwa penggunaan chatbot AI untuk curhat sejatinya masih bisa dianggap wajar dan sehat, selama digunakan dalam batas tertentu.
"Chatbot masih bisa menjadi alat bantu, misalnya untuk eksplorasi awal emosi, menulis jurnal pribadi, atau berpikir reflektif sebelum mencari bantuan profesional," ujar Ghina.
Namun demikian, Ghina menegaskan pentingnya memperhatikan frekuensi dan tujuan dari curhat tersebut.
Bila seseorang mulai merasa lebih nyaman berbagi kepada AI ketimbang manusia di sekitarnya, seperti keluarga atau tenaga profesional, maka kondisi itu patut diwaspadai.
"Ketika seseorang menghindari interaksi sosial dan mulai merasa chatbot adalah satu-satunya yang memahami, bahkan mengalami distress jika tidak mendapat respons dari bot, maka ini sudah tidak sehat. Ini bisa menjadi tanda isolasi emosional," tambahnya.
Menurutnya, hal ini berpotensi memunculkan ilusi relasi, yaitu anggapan bahwa chatbot adalah teman sejati yang memahami sepenuhnya.
Padahal, chatbot tidak memiliki empati, pengalaman emosional, maupun kemampuan diagnosis yang diperlukan untuk menangani masalah psikologis secara menyeluruh.
Ghina juga mengingatkan bahwa chatbot tidak dapat menggantikan peran psikolog atau psikiater.
"Untuk isu kesehatan mental yang serius, tetap perlu konsultasi langsung dengan profesional yang kompeten," katanya.
Selain itu, pengguna juga diimbau untuk bijak dalam membagikan informasi pribadi saat menggunakan layanan chatbot AI. Meskipun ChatGPT, misalnya, tidak menyimpan data pengguna secara personal, namun berbagi informasi sensitif tetap berisiko bila tidak disikapi secara hati-hati.
Tren ini menunjukkan pentingnya literasi digital dan kesehatan mental berjalan beriringan.
Teknologi memang bisa menjadi alat bantu, namun tidak boleh menggantikan peran hubungan antarmanusia yang sejati.*
(d/a008)
JAKARTA Sebuah kisah pilu menimpa kawasan Pejaten Raya, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Seorang bayi perempuan berusia dua hari
NASIONAL
DENPASAR Pelayanan publik menjadi prioritas utama Polresta Denpasar, termasuk dalam penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM). Di Satuan Peny
NASIONAL
DENPASAR Kepolisian Resor Kota Polresta Denpasar melalui Satuan Pembinaan Masyarakat (Binmas) bersama Satuan Reserse Narkoba menggelar s
HUKUM DAN KRIMINAL
BINJAI Kecelakaan beruntun melibatkan sejumlah kendaraan terjadi di ruas Jalan Tol BinjaiLangsa pada Rabu, 4 Maret 2026. Insiden ters
PERISTIWA
JAKARTA Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menanggapi pengakuan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq yang menyebut dirinya tidak me
POLITIK
JAKARTA Hakim tunggal praperadilan Sulistyo Muhammad Dwi Putro mengingatkan para pihak agar menjaga ketertiban selama persidangan praper
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga dua saksi kasus korupsi Bupati Pati Sudewo berupaya menghambat proses penyidikan deng
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Badan Gizi Nasional (BGN) membuka ruang bagi kepala daerah untuk turun langsung mengawasi dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG
NASIONAL
JAKARTA Sidang praperadilan mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), K
HUKUM DAN KRIMINAL
MEDAN Sebuah kecelakaan lalu lintas terjadi di simpang empat Aksara, Kecamatan Medan Tembung, Kamis (5/3/2026) sekitar pukul 03.00 WIB.
NASIONAL