BREAKING NEWS
Kamis, 15 Januari 2026

BMKG: Monsun Australia Picu Musim Kemarau, Waspadai Hujan Lebat dan Cuaca Ekstrem 2–5 Juli 2025

- Rabu, 02 Juli 2025 17:36 WIB
BMKG: Monsun Australia Picu Musim Kemarau, Waspadai Hujan Lebat dan Cuaca Ekstrem 2–5 Juli 2025
ilustrasi hujan
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN -Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa Monsun Australia yang aktif sejak Juni hingga September 2025 menjadi penyebab utama terjadinya musim kemarau di sebagian besar wilayah selatan ekuator Indonesia, khususnya Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramadhani, menjelaskan bahwa Monsun Australia merupakan angin musiman yang berasal dari Benua Australia dan bertiup ke arah utara melewati wilayah Indonesia.

"Angin ini bersifat kering dan cukup dingin karena berasal dari wilayah yang sedang mengalami musim dingin di Australia," ujar Andri di Jakarta, Rabu (2/7).

Dampak dari Monsun Australia dirasakan dalam bentuk cuaca yang lebih kering, suhu malam yang lebih dingin, serta angin kencang, terutama di wilayah pesisir selatan Indonesia.

Potensi Hujan Lebat 2–5 Juli

Meski musim kemarau tengah berlangsung, BMKG juga memprakirakan adanya potensi hujan lebat pada periode 2–5 Juli 2025 di beberapa wilayah Indonesia, termasuk:

Jawa Barat

Jawa Timur

Bali

Sulawesi Selatan

Papua Selatan

Hujan lebat ini terpantau melalui anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang menunjukkan nilai negatif, menandakan langit yang tertutup awan dan berpotensi menghasilkan presipitasi tinggi.

"Kondisi ini bisa menyebabkan hujan intensitas sedang hingga lebat secara tiba-tiba di beberapa wilayah," jelas Andri.

Fakta ini terbukti dari hujan deras yang melanda Jakarta pada Rabu sore (2/7), meski di tengah musim kemarau.

Risiko Kekeringan dan Gelombang Tinggi

BMKG turut mengingatkan bahwa cuaca kering berkepanjangan akibat Monsun Australia dapat menimbulkan risiko kekeringan, krisis air bersih, serta gangguan sektor pertanian di daerah-daerah rawan.

Selain itu, angin timuran yang kencang juga meningkatkan risiko gelombang tinggi di wilayah perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara, yang dapat membahayakan aktivitas pelayaran dan nelayan.

Imbauan BMKG:

Waspadai potensi hujan lebat dan angin kencang 2–5 Juli

Nelayan dan pelaku pelayaran diminta berhati-hati terhadap gelombang tinggi

Pemerintah daerah diimbau mengantisipasi kekeringan dan kebakaran lahan

BMKG akan terus memperbarui informasi prakiraan cuaca dan mengimbau masyarakat untuk selalu mengikuti update resmi melalui kanal resmi BMKG.*

(km/j006)

Editor
:
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru