BREAKING NEWS
Jumat, 03 April 2026

Film Indonesia Tak Sekadar Hiburan, Budi Mulyawan Ungkap Potensi Besar yang Terabaikan

gusWedha - Jumat, 03 April 2026 07:39 WIB
Film Indonesia Tak Sekadar Hiburan, Budi Mulyawan Ungkap Potensi Besar yang Terabaikan
Budi Mulyawan, Pendiri Jaya Center Foundation dan Pembina Jakarta Millennial Film Festival 2026. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Meskipun industri film Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, persoalan struktural dalam ekosistem perfilman nasional tetap menjadi tantangan besar yang belum terpecahkan.

Budi Mulyawan, Pendiri Jaya Center Foundation dan Pembina Jakarta Millennial Film Festival (JMFF) 2026, menilai bahwa industri film Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang "tumbuh tanpa fondasi yang kuat."

"Industri kita berkembang pesat, tetapi tanpa penataan yang terstruktur dan berkelanjutan. Ini akan menjadi masalah besar di masa depan," ungkap Budi dalam diskusi yang digelar pada Kamis (2/4/2026).

Baca Juga:

Budi menegaskan bahwa film Indonesia harus lebih dari sekadar hiburan. Menurutnya, film seharusnya menjadi medium multidimensi yang mengemban peran penting dalam pendidikan publik, promosi budaya, komunikasi sosial-politik, serta penggerak ekonomi kreatif nasional.

"Film itu bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan. Ia bisa menjadi alat pendidikan, memperkenalkan identitas bangsa, bahkan menggerakkan sektor ekonomi dan pariwisata. Jika hanya berhenti pada hiburan, kita sedang menyia-nyiakan potensi besar yang dimiliki oleh film," kata Budi.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa potensi besar ini belum didukung oleh sistem yang solid. Meskipun Indonesia memiliki Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman, yang mengatur berbagai aspek industri film, praktik implementasi regulasi tersebut dinilai masih lemah.

Pembajakan yang masih marak, distribusi film yang belum merata, serta kurangnya perlindungan bagi pelaku industri kecil menjadi masalah utama.

"Undang-undangnya sudah ada, tetapi implementasinya lemah. Pembajakan masih menggerus ekonomi para kreator dan distribusi film yang terbatas membatasi akses masyarakat terhadap film nasional," ujar Budi.

Budi juga mengkritisi peran Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang dinilai belum cukup maksimal dalam mendorong kemajuan industri perfilman. Ia berharap Kongres ke-4 BPI yang akan digelar pada April 2026 dapat menghasilkan kepemimpinan baru yang lebih berani dan visioner dalam membawa perubahan positif.

"Industri film kita membutuhkan arah yang jelas dan bukan hanya rutinitas kelembagaan. Keberanian untuk membenahi dari hulu ke hilir sangat dibutuhkan," tegasnya.

Selain itu, Budi juga menyoroti beberapa masalah klasik yang masih membayangi industri film nasional, termasuk dominasi film asing yang menguasai pasar, sementara kualitas produksi dan cerita film Indonesia masih belum konsisten.

Ia juga menyebutkan, jumlah layar bioskop di Indonesia yang hanya sekitar 2.500 layar jauh dari kebutuhan ideal sekitar 10.000 layar.

"Kita negara besar, tetapi akses terhadap film nasional masih sangat terbatas. Ini bukan hanya soal industri, tapi soal keadilan budaya," ujar Budi, menambahkan bahwa pembatasan akses ini berdampak pada pegiat film Indonesia yang kesulitan mendapatkan pendanaan dan distribusi yang layak.

Sebagai kontribusi nyata dalam membangun ekosistem perfilman yang sehat, Jaya Center Foundation kembali menggelar Jakarta Millennial Film Festival (JMFF) 2026.

Festival yang akan berlangsung dari April hingga Agustus 2026 ini diharapkan menjadi ruang inklusif bagi talenta-talenta baru dalam dunia perfilman, dengan rangkaian kegiatan workshop dan kompetisi film pendek.

Tema festival tahun ini, "Millennial dan Bela Negara," diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran generasi muda akan peran film dalam membentuk opini publik dan memperjuangkan identitas bangsa.

Budi berharap festival ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga bisa menggerakkan semangat perjuangan dan bela negara dalam konteks kekinian.

"Film adalah instrumen perjuangan modern yang mampu membentuk karakter dan opini bangsa. Kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku yang sadar bahwa film bisa menjadi bagian dari bela negara," ujarnya.

Dengan meningkatnya pangsa pasar penonton film Indonesia yang mencapai 61 persen, Budi Mulyawan mengingatkan agar euforia tersebut tidak menutupi persoalan struktural yang masih ada.

Ia berharap industri film Indonesia tidak hanya menjadi pasar besar bagi film asing, tetapi mampu bersaing di pasar global dengan dukungan sistem yang lebih baik.*

(dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Prabowo Subianto Minta BUMN Tingkatkan Return on Asset hingga 10%
Prabowo Subianto Pertanyakan Aturan yang Melarang Audit Anak Usaha BUMN
Polres Gianyar Gelar Sidak Tempat Hiburan Malam, Pastikan Keamanan dan Ketertiban Selama Ramadhan dan Jelang Nyepi
THM Blue Night Masih Beroperasi di Bulan Ramadan, HMI Binjai Desak Penertiban: Jika Ditemukan Pelanggaran, Harus Ditutup!
Rumah Duka Menteng Dipenuhi Pelayat, Jenazah Try Sutrisno Disambut Tokoh Nasional
Ekosistem Film Indonesia Terancam, Budi Mulyawan Dorong UMKM Jadi Tulang Punggung
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru