Hingga Senin, 27 April 2026, panitia menerima 648 karya dari berbagai kategori.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya, Kesit Budi Handoyo, mengatakan tingginya jumlah karya menunjukkan ajang ini masih menjadi barometer penting dalam dunia jurnalistik.
"Anugerah ini bukan sekadar kompetisi, tetapi ruang refleksi bagi insan pers untuk menghadirkan karya berkualitas dan berpihak pada kepentingan publik," ujar Kesit dalam keterangannya.
Berdasarkan data panitia, karya yang masuk terdiri dari 65 karya televisi streaming, 110 televisi terestrial, 173 karya teks, 245 karya foto, 32 infografis, 20 tajuk rencana, serta satu karya radio dan dua karya kategori khusus bertema "Menyongsong 5 Abad Jakarta".
Ketua Panitia MHT 2026, Arman Suparman, mengatakan penyelenggaraan tahun ini tetap mempertahankan tujuh kategori utama dengan tambahan kategori khusus yang menyoroti perjalanan menuju lima abad Jakarta.
Menurut dia, kategori khusus tersebut memberi ruang bagi jurnalis untuk mengangkat berbagai isu, mulai dari sejarah, transformasi sosial, hingga tantangan kebijakan publik di Ibu Kota.
"Ini menjadi ruang strategis bagi jurnalis untuk menghadirkan perspektif yang lebih dalam dan komprehensif," kata Arman.
Ia menambahkan, panitia mendorong peserta memanfaatkan data resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta guna memperkuat kualitas karya berbasis data.
Namun, kebutuhan data terkait indikator kota global dan aspek kebudayaan dinilai masih perlu ditingkatkan.
Sementara itu, Ketua Dewan Juri, Bagus Sudarmanto, menyebut penilaian tahun ini akan menitikberatkan pada kedalaman analisis, kualitas substansi, serta keberanian perspektif jurnalistik.
"Kami mencari karya yang tidak hanya informatif, tetapi juga reflektif dan memiliki dampak sosial," ujarnya.