Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA - Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, soal perbedaan upah pekerja program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan guru honorer menuai sorotan publik.
Isu ini mencuat setelah diketahui bahwa petugas pencuci peralatan dapur MBG menerima gaji lebih tinggi dibanding sebagian guru honorer.
Dadan mengakui adanya kritik dari masyarakat terkait ketimpangan tersebut.
Baca Juga:
Ia menyebut pekerja pencuci ompreng dalam program MBG digaji sekitar Rp2,4 juta hingga Rp3,5 juta per bulan, sementara guru honorer di sejumlah daerah hanya menerima kisaran Rp600 ribu hingga Rp800 ribu.
"Makanya kita diprotes banyak pihak karena gaji karyawan pencuci piring lebih tinggi dibanding guru honorer," kata Dadan.
Menurut dia, tenaga kerja dalam program MBG sebagian besar berasal dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah atau kategori desil 1 hingga 4 berdasarkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Kelompok tersebut sebelumnya tercatat memiliki pendapatan di bawah Rp1 juta per bulan.
Dadan menilai, skema ini berdampak pada peningkatan pendapatan kelompok masyarakat tersebut.
Ia juga menyebut program MBG berkontribusi terhadap penurunan angka kemiskinan ekstrem di sejumlah daerah.
"Alhamdulillah mereka sekarang mulai meningkat pendapatannya," ujarnya.
Program MBG sendiri dijalankan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kini terus diperluas di berbagai daerah.
Di Sulawesi Selatan misalnya, tercatat 836 unit SPPG telah beroperasi di 24 kabupaten/kota.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.