Film dokumenterPesta Babi karya antropolog Cypri Jehan Paju Dale dan jurnalis investigasi Dandhy Laksono menyoroti deforestasi di wilayah Papua Selatan yang dikaitkan dengan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN).
Film berdurasi 106 menit itu juga memperlihatkan dampak pembukaan hutan terhadap masyarakat adat di sejumlah kabupaten, termasuk Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.
Pernyataan Megawati disampaikan dalam forum National Policy Dialogue Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan: Orkestrasi Pengetahuan, Inovasi, dan Geopolitik dalam Ekonomi Biru Indonesia di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
"Saya kemarin menangis ketika melihat filmPesta Babi. Itu benar adanya. Sudah seberapa banyak hutan hanya dijadikan tanaman sawit, untuk apa?" ujar Megawati, dari keterangan resmi UGM, Senin (25/5/2026).
Ia menilai masyarakat adat di Papua Selatan memiliki sistem hukum dan tradisi yang perlu dihormati dalam setiap kebijakan pembangunan.
Menurut dia, aspirasi masyarakat adat sebagaimana tergambar dalam film tersebut merupakan hal yang wajar.
Megawati juga mengkritik pola pengelolaan sumber daya alam yang dinilai kerap mengabaikan keberlanjutan lingkungan serta hak masyarakat adat.
Ia menyinggung pentingnya arah pembangunan nasional yang tidak berubah setiap kali terjadi pergantian presiden.
"Kalau presidennya berganti, jangan sampai arah pembangunannya ikut berubah semua. Kita harus punya pola pembangunan jangka panjang untuk masa depan bangsa," kata dia.
Film Pesta Babi sendiri diproduksi oleh kolaborasi sejumlah pihak, termasuk Jubi Media, Watchdoc Documentary, Greenpeace Indonesia, serta beberapa organisasi masyarakat sipil lainnya.
Film ini telah dirilis secara luas melalui kanal YouTube, setelah sebelumnya hanya dapat diakses melalui pemutaran terbatas.