BREAKING NEWS
Kamis, 27 Agustus 2026

Investor Desak BGN Cabut Moratorium Dapur MBG, 6.000 SPPG Diklaim Mangkrak: Kami Ditagih Rentenir!

Johan - Rabu, 08 Juli 2026 18:39 WIB
Investor Desak BGN Cabut Moratorium Dapur MBG, 6.000 SPPG Diklaim Mangkrak: Kami Ditagih Rentenir!
Massa yang tergabung dalam Presidium Aliansi Rakyat Pendukung MBG saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Lapangan IRTI, dekat Halte Transjakarta Balai Kota, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Massa yang tergabung dalam Presidium Aliansi Rakyat Pendukung Makan Bergizi Gratis (MBG) meminta Badan Gizi Nasional (BGN) mencabut kebijakan moratorium pembangunan dapur baru atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Mereka menilai kebijakan tersebut telah membuat ribuan dapur yang dibangun menggunakan dana pribadi belum dapat beroperasi.

Baca Juga:
Tuntutan itu disampaikan saat aksi unjuk rasa di depan Lapangan IRTI, dekat Halte Transjakarta Balai Kota, Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Ketua Umum Asosiasi Pangan dan Gizi Indonesia Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (APGI 3T), Herwil Junaidi, mengatakan seluruh pembangunan dapur MBG dilakukan menggunakan modal para investor tanpa menggunakan anggaran negara.

"Menggunakan dana pribadi, dana kawan-kawan semua, dana investor, tidak sepeser pun menggunakan dana negara," kata Herwil di lokasi aksi.

Herwil mengungkapkan moratorium yang diberlakukan BGN membuat banyak dapur yang telah selesai dibangun tidak dapat beroperasi.

Akibatnya, para investor harus menanggung berbagai biaya operasional dan kewajiban pembayaran yang terus berjalan.

"Kami ditagih-tagih oleh perbankan, kami ditagih oleh rentenir, kami ditagih oleh tukang-tukang yang belum kami bayar. Sampai sekarang, dapur SPPG kami itu terbengkalai. Bahkan kami jaga, kami bayar itu Bapak, Ibu, kami bayar internet, kami bayar listriknya," tuturnya.

Menurut Herwil, kondisi tersebut paling banyak dirasakan oleh investor yang membangun dapur MBG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dalam aksi tersebut, Herwil menyebut sekitar 6.000 dapur MBG hingga kini belum dapat beroperasi akibat moratorium pembangunan yang diterapkan BGN.

"Ada ribuan dapur, mungkin sekitar 6.000 dapur. Dan yang sudah PKS (perjanjian kerja sama) itu ada 645 SPPG di SK pertama," katanya.

Ia memperkirakan biaya pembangunan satu dapur mencapai Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar.

Dengan jumlah ribuan dapur yang belum beroperasi, menurutnya nilai investasi yang tertahan mencapai angka yang sangat besar.

"Satu dapur itu diperkirakan Rp1,5 miliar sampai Rp2 miliar. Bayangkan kalau dia 6.000 dapur. Berapa kerugian kami? Gitu lho. Kami tidak menuntut banyak. Kalau memang ini sulit untuk negara, kembalikan saja dana kami, nggak usah kami melaksanakan ini lah, biar negara yang menjalankan," ujar Herwil.

Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S Deyang Nanik, menjelaskan bahwa moratorium pembangunan dapur MBG dilakukan untuk menata persebaran SPPG agar lebih merata di seluruh Indonesia.

Baca Juga:

Selain itu, BGN juga ingin memastikan dapur yang telah beroperasi memenuhi standar penyediaan makanan bergizi sebelum dilakukan penambahan dapur baru.

"Artinya, bila dapur itu tidak sesuai, tentu kami akan lakukan suspend," ujar Nanik dalam konferensi pers sebelumnya.

BGN juga menyatakan akan memprioritaskan pembenahan fasilitas, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta menyiapkan skema alternatif pelaksanaan program MBG di wilayah 3T agar pelaksanaannya lebih efektif dan tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Jadi kami fokus kepada efisiensi anggaran," kata Nanik.

Hingga saat ini, kebijakan moratorium masih berlaku dan BGN belum mengumumkan jadwal pencabutannya.

Aspirasi yang disampaikan para investor dalam aksi tersebut menjadi salah satu masukan yang berkembang di tengah pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis secara nasional.* (km/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Badan Gizi Nasional Kini Punya Peran Baru: Masuk Sistem Pertahanan Negara
Danantara Tinjau Operasi PT Pertamina Hulu Mahakam, Perkuat Sinergi Ketahanan Energi Nasional
Selain Bupati Deli Serdang, LBH Medan Juga Laporkan Wali Kota Medan ke Ombudsman Sumut soal Penggunaan APBD
Rico Waas Dorong Perusahaan Gunakan CSR untuk Lindungi Pekerja Informal Lewat BPJS Ketenagakerjaan
Dilaporkan LBH Medan ke Ombudsman Soal APBD untuk Rehabilitasi Gedung Polri, Ini Respons Pemkab Deli Serdang
Sambut Kunjungan Kerja DPRD Sumut, Bupati Fery Dorong Sinergi Nyata Percepat Pembangunan Labuhanbatu Selatan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru