Sebagai perbandingan, batu bara menghasilkan sekitar 820-1054 g CO2-eq/kWh dan gas alam sekitar 490-499 g CO2-eq/kWh (Mathew, 2022; Popa & Cocoș, 2021).
Selama 50 tahun terakhir, penggunaan energi nuklir diperkirakan telah mencegah emisi sekitar 60-70 gigaton CO2.
Saat ini, energi nuklir menyumbang sekitar 10–11% dari total produksi listrik global dan sekitar sepertiga dari seluruh listrik rendah karbon di dunia (Mathew, 2022; Popa & Cocoș, 2021).
Seperti ditunjukkan pada Gambar 1, peningkatan kapasitas nuklir dalam skenario ambisius berpotensi mendekatkan pencapaian target IPCC 1,5°C serta menghindari pelepasan puluhan gigaton emisi CO₂.
Peran dalam Sistem Energi dan Stabilitas Jaringan
Energi nuklir menawarkan pasokan listrik yang stabil dan andal, beroperasi secara terus-menerus (24/7) sebagai sumber daya baseload.
Kemampuan ini sangat penting untuk menjaga stabilitas jaringan listrik, terutama ketika proporsi sumber energi terbarukan yang bersifat variabel seperti surya dan angin terus meningkat.
Seperti ditunjukkan pada Gambar , proyeksi skenario transisi energi primer global periode 2019–2050 memperlihatkan penurunan tajam penggunaan bahan bakar fosil yang diimbangi oleh pertumbuhan pesat energi surya, angin, dan nuklir.
PLTN dapat membantu menyeimbangkan fluktuasi pasokan dari sumber intermiten tanpa bergantung pada pembangkit fosil.
Selain itu, energi nuklir berkontribusi pada keamanan energi nasional dengan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
Kemajuan Teknologi Nuklir
Inovasi teknologi terus berupaya meningkatkan aspek keamanan, keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan, serta mengatasi beberapa tantangan utamanya.