Teknologi dan material yang digunakan dalam siklus bahan bakar nuklir sipil (terutama pengayaan uranium dan pemrosesan ulang plutonium) secara inheren memiliki potensi penyalahgunaan untuk tujuan militer (Hans, n.d.; Egeland, 2025; Muellner et al., 2021).
Rezim non-proliferasi internasional dan pengawasan IAEA sangat penting untuk mengelola risiko ini.
5. Keterbatasan Sumber Daya Uranium
Reaktor fisi generasi saat ini sebagian besar bergantung pada isotop Uranium-235 yang langka (0,7% dari uranium alam) (Muellner et al., 2021).
Ekspansi nuklir skala besar dengan teknologi saat ini dapat menghadapi keterbatasan pasokan uranium dalam jangka panjang, meskipun teknologi pembiak (FBRs) atau pemanfaatan Thorium dapat mengatasi hal ini (Muellner et al., 2021; Popa & Cocoș, 2021).
6. Penerimaan Publik
Penolakan atau keraguan publik, yang dipicu oleh kekhawatiran tentang keselamatan, limbah, dan hubungan historis dengan senjata nuklir, tetap menjadi hambatan besar di banyak negara (Hans, n.d.; Popa & Cocoș, 2021; Quiroga-Barriga et al., 2025; Fernández-Arias et al., 2024).
Membangun kepercayaan dan keterlibatan masyarakat sangat krusial (Quiroga-Barriga et al., 2025).
7. Kerentanan terhadap Dampak Perubahan Iklim
Ironisnya, infrastruktur nuklir itu sendiri rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Peningkatan suhu air (sungai, laut) dapat mengurangi efisiensi pendinginan dan memaksa pengurangan daya (Portugal-Pereira et al., 2024).